Bekerja dengan Kami
EcoStory
Kalau Banyak Mangi-Mangi, Banyak Kepiting
04 February 2020 - oleh Leo Wahyudi
COPY LINK

Mama Mariam Kramandondo menangkap karaka (kepiting hitam) di perairan hutan mangrove di Kampung Mandoni, Kabupaten Fakfak, Priovinsi Papua Barat. Mama Mariam memanfaatkan rotan dan jaring nilon serta daging ikan sebgai umpan untuk menangkap karaka. (Yayasan EcoNusa/Kei Miyamoto)

Setelah mengarungi lautan semalaman, Kapal Kurabesi yang membawa Tim Ekspedisi Mangrove merapat di Kampung Mandoni, Distrik Kokas, di Kabupaten Fakfak. Kampung ini menjadi tujuan di hari keenam perjalanan ekspedisi tersebut. Kampung Mandoni ini dijuluki Kampung Kepiting Bakau, lantaran masyarakatnya banyak yang mencari penghidupan dari kepiting bakau, selain dari rajungan, kerang dara dan ikan.

 

Di tengah aktifitas masyarakat pagi itu, Tim EcoNusa beruntung karena bertemu dengan Mama Mariam Kramandondo yang sedang sibuk mencari kepiting. Ia mengayuh perahunya dari jam enam pagi untuk memasang ranjau atau perangkap kepiting di sepanjang jalur pencarian kepitingnya hari itu.

 

Mama Mariam bersemangat mencari kepiting ketika musim penghujan tiba. “Musim hujan itu banyak kepitingnya, karena ada campuran air tawar toh. Lumayan bisa dapat 1 karung. Isinya bisa 20, ada yang 30, atau 50 ekor,” kata Mama Mariam.

 

Ia mengaku menjual tangkapannya kepada pembeli yang datang dari kota. Kalau tidak ada pembeli, Mama Mariam membawa hasil tangkapannya ke Fakfak. “Ada kala dapat Rp700.000. Kalau sudah lebih banyak itu bisa Rp1 juta,” katanya menceritakan hasil penjualan kepiting jika tangkapannya banyak.

 

Mama Mariam memiliki lima anak perempuan. Ada yang bersekolah di Manado dan menjadi guru di sana. Ada yang menjadi suster di Jayapura. Ternyata, uang kepiting inilah yang telah menghantar anak-anak Mama Mariam mengenyam bangku sekolah. “Iya, uang kepiting. Ada tambahannya dari pala, tapi yang dasar ini kepiting sudah,” kata Mama Mariam bangga bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan uang dari kepiting.

 

Kampung Mandoni memiliki kawasan hutan mangrove yang cukup lebat. Kawasan ekosistem mangrove itu ada yang sudah dijamah manusia dan ada yang belum, atau yang disebut kawasan ekosistem mangrove primer. Tapi menurut pengakuan Mama Mariam, penduduk menjaga kawasan yang banyak ditumbuhi mangi-mangi. Tidak ada orang yang memotong mangi-mangi sembarangan.

 

Namun diakui Mama Mariam, ada kalanya ia susah mendapatkan banyak kepiting. Karena makin banyak orang yang turun dan mencari kepiting di daerah yang banyak mangi-mangi. Selain bertambahnya penduduk yang mencari penghidupan yang sama, musim panas serta air keruh menjadi penyebab berkurangnya tangkapan.

 

“Kalau sudah banyak orang kita harus mencari tempat yang kosong. Mencari yang tampak  yang cepat dapat. Jangan baku dekat sama teman toh,” katanya menceritakan perjuangannya memperebutkan lahan tangkapan.

 

Menurut Kepala Kampung Mandoni, Abdul Karaman Dunduh, penduduk Mandoni sebagian besar memang bertani buah pala. Namun setelah selesai memanen pala, biasanya mereka kembali mencari kepiting, kerang (bia) dara, dan ikan.

 

Pada umumnya penduduk Mandoni menjual kepiting mentah. Namun, ada kalanya ada yang membuat pangan olahan berbahan kepiting, seperti dibuat abon atau kare. Hal ini pula yang dilakukan oleh Mama Mariam. “Iya ada masak kare baru bawa ke kantor-kantor untuk dijual. Semangkok Rp10 ribu, kalau banyak Rp20 ribu,” kata Mama Mariam. Diakuinya menjual kepiting olahan lebih menguntungkan. Satu kepiting bisa dipotong-potong untuk dijadikan kare.

 

Melihat potensi kepiting, kerang dara, ikan yang ada di wilayah Mandoni, mangi-mangi menjadi ekosistem penting yang harus dijaga. “Insya Allah, kalau banyak mangi-mangi banyak kepiting,” kata Mama Mariam di penghujung obrolan dengan Tim Ekspedisi Mangrove EcoNusa 2019.

 

 

Penulis: Leo Wahyudi dan Wiendy Widasari 
Editor: Lutfy Mairizal Putra

EcoBlogs Lainnya
Rumah EcoNusa Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved