Bekerja dengan Kami
EcoStory
UU Cipta Kerja dan Implikasinya Kepada Hutan, Lingkungan Hidup, dan Masyarakat Hukum Adat di Tanah Papua

Kehadiran Rancangan Undang-Undang tentang Cipta Kerja telah menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Pelbagai pengaturan yang termaktub di dalamnya dinilai tak mengindahkan prinsip keadilan dan perlindungan terhadap masyarakat dan sumber daya alam. Meski telah menuai protes dari dari berbagai elemen masyarakat, DPR RI tetap mengetuk palu pengesahan RUU Cipta Kerja dalam rapat paripurna pada 5 Oktober 2020.

Meningkatkan Ketahanan Pangan Melawan Pandemi Covid-19
Buku Saku Pencegahan Covid-19

Saat ini, pandemi Covid-19 telah menyebar di seluruh wilayah Indonesia, tak luput juga di Tanah Papua. Dilansir dari Covid-19.kemenkes.go.id, Covid-19 telah menjangkiti 4,162 orang di Provinsi Papua dan 941 orang di Provinsi Papua Barat. Pandemi ini tentu memberikan dampak yang cukup serius pada kehidupan sehari-hari. Pendidikan jarak jauh dan jam malam mulai diberlakukan. Tidak ada kumpul-kumpul bersama seperti sedia kala. Perlu usaha bersama untuk menekan angka Covid-19 di Tanah Papua.

Bergotong-royong Jaga Hutan Indonesia dari Kerusakan
Pertemuan Koordinasi Virtual Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Papua Barat bersama Mitra Pembangunan

Pertemuan Koordinasi Virtual Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Papua Barat bersama Mitra Pembangunan telah berlangsung selama dua hari, yakni pada 14 dan 15 Juli 2020. Pertemuan tersebut membahas beberapa hal, yakni capaian implementasi Deklarasi Manokwari, tindak lanjut hasil pertemuan koordinasi Mitra Pembangunan, dan sinkronisasi rencana program Mitra Pembangunan terkait Pembangunan Berkelanjutan.

Kemandirian Masyarakat Adat Papua Mengelola Wilayah dan Kekayaan Alamnya
Laporan Ekspedisi Mangrove

Yayasan EcoNusa bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, Universitas Papua, dan WRI Indonesia menjelajahi hamparan luas hutan mangrove di Papua Barat. Selama dua pekan kami berlayar sejauh 1000 mil meliputi 5 kabupaten (Kaimana, Fakfak, Bintuni, Sorong Selatan, dan Raja Ampat) dengan 9 kampung di dalamnya.

Kabar dari Lapangan - Dampak Pandemi bagi Masyarakat Adat (3)

Selain bidang pariwisata bahari dan budaya, pariwisata terestrial (wisata darat) tak luput dari dampak pandemi Covid-19. Ekowisata birdwatching atau pengamatan burung menjadi salah satu pariwisata terestrial yang menjadi sumber penghasilan masyarakat di Tanah Papua. Sama halnya seperti pariwisata bahari dan budaya, pengelola wisata pengamatan burung di Tanah Papua ini pun mengalami dampak yang signifikan akibat pandemi.

Sosialisasi Program Ilmuwan Muda Papua

Tanah Papua menjadi rumah bagi megabiodiversitas flora dan fauna. Terdapat 3.764 spesies vertebrata dan 200.000 spesies invertebrata. Selain itu juga terdapat 13.402 spesies tumbuhan berpembuluh. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat masih banyak daerah yang belum terjamah oleh para peneliti.

Buletin Tabea Vol 3

Edisi ketiga Buletin Tabea mengangkat tema Hutan Hujan Indonesia. Tema ini dipilih sekaligus merayakan peringatan Hari Hutan Hujan Dunia yang jatuh pada 22 Juni 2020. Kami juga membagikan kisah pertaian berkelanjutan di Kampung Klayili, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat.

Kabar dari Lapangan - Dampak Pandemi bagi Masyarakat Adat (2)

Dampak pandemi Covid-19 di Tanah Papua juga dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pariwisata. Akibat absennya kunjungan wisatawan ke bumi Cenderawasih ini, para pengelola homestay, operator ekowisata, dan penyedia sarana wisata lainnya menjadi kehilangan penghasilan. Beberapa terpaksa harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama masa Pandemi Covid-19.

Kabar dari Lapangan - Dampak Pandemi bagi Masyarakat Adat (1)

Sejak Maret 2020, pembatasan sosial dan penutupan akses transportasi laut dan udara ke Provinsi Papua dan Papua Barat oleh pemerintah daerah diberlakukan secara luas di seluruh kabupaten. Tujuannya untuk  mencegah dan mengendalikan penyebaran pandemi Covid-19 di Tanah Papua.  Langkah ini dinilai cukup mampu membendung penyebaran Covid-19 di Tanah Papua.  Namun disisi lain, pembatasan sosial dan penutupan akses transportasi ini juga berdampak kepada kelompok masyarakat adat dan masyarakat secara umum di Tanah Papua, tak terkecuali di bidang pertanian dan komoditas.

Ini Kabar Terbaru dari Indonesia Timur oleh EcoNusa Foundation - Juli 2020
Materi Webinar Rainforest Day 2020

Provinsi Papua dan Papua Barat menyumbang lebih dari 38% dari total tutupan hutan yang dimiliki Indonesia. Hutan hujan tropis berperan sebagai rumah bagi beragam flora dan fauna endemik, penyeimbang iklim karena dapat menyimpan karbon, serta sumber penghidupan bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, hutan hujan tropis di Tanah Papua mengalami ancaman yang serius, termasuk deforestasi, degradasi hutan, pengalihfungsian lahan, introduksi spesies, kerusakan lahan gambut, dan pembangunan infrastruktur. 

Kabar Bulanan EcoNusa - Juni 2020
Buletin Tabea Vol 2

Edisi kedua buletin Tabea telah terbit. Biodiversitas menjadi isu utama yang kami pilih, bertepatan dengan hari keanekaragaman hayati dunia. Kami juga mengajak peneliti muda mendaftarkan dirinya melakukan penelitian akademik di bidang pembangunan berkelanjutan. 

Laporan Tahunan Yayasan EcoNusa 2019

Tahun 2019 menjadi momentum penting untuk sebuah organisasi baru seperti Yayasan EcoNusa. Selama tahun tersebut, kami mencoba menempatkan diri sebagai sebuah organisasi profesional dan terpercaya untuk menggerakkan sebuah perubahan di Indonesia terutama terkait gerakan penyelamatan dan perlindungan lingkungan di wilayah timur Indonesia dan Laut Nusantara. Perjalanan penuh tantangan terutama terkait isu sosial dan politik di Tanah Papua. Apalagi 2019 merupakan tahun politik dengan pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilihan legislatif dan pemilihan presiden serentak yang mempengaruhi suhu politik dalam negeri saat itu. Namun, kami tetap bergerak maju untuk memperjuangkan keadilan dan keberlanjutan soal hutan dan masyarakat adat wilayah timur Indonesia serta keberlanjutan pengelolaan laut Indonesia.

 

Kabar Bulanan EcoNusa - Mei 2020
Buletin Tabea Vol 1

Dalam masyarakat Maluku dan Papua, kata tabea identik dengan kata sapaan. Bagi kami, kata tabea memiliki arti tabur benih alam. Ini selaras dengan misi buletin ini sebagai wadah komunikasi dan pengkayaan isu lingkungan kepada anak muda Indonesia, utamanya generasi muda di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku yang menjadi fokus utama program Econusa. Selamat membaca buletin Tabea edisi perdana

Laporan Pelaksanaan Lokakarya Ekowisata Tanah Papua

Kami berharap lokakarya ini merupakan batu loncatan untuk kemajuan ekowisata di Tanah Papua. Melalui ekowisata, hutan dan laut dapat terjaga untuk tetap mendukung kesejahteraan di masa depan bagi masyaraat local. Dengan menjaga hutan dan laut tetap “sehat” tanpa disadari juga mendukung upaya pemerintah dalam pengendalian perubahan iklim dimana hutan di Tanah Papua diperkirakan 5,5 Gigaton Carbon yang masih tersimpan di hutan belantara Papua.

Laporan Tahunan Yayasan EcoNusa 2018

Yayasan EcoNusa ingin memperbanyak dan memperluas amplifkasi narasi Papua yang lebih konstruktif di luar Papua. Sementara pengembangan kapasitas dibangun di tingkat tapak melalui pengembangan strategi komunikasi serta kolaborasi semua pihak bersama mitra-mitra lokalnya. Peran ini sangat strategis bagi Yayasan EcoNusa. Harapannya komunikasi dan pelibatan para pihak yang intensif ini akan membangun kepercayaan di semua tingkat sehingga intervensi konstruktif dapat dilakukan, sekalipun ini bukan perkara mudah. Tujuannya agar narasi positif tentang Tanah Papua bisa diterima dan dimengerti oleh dunia di luar Tanah Papua. 

Laporan School of EcoDiplomacy (SED) 2019: Jayapura

Ancaman lingkungan dan potensi generasi muda melatarbelakangi Yayasan Econusa menginisiasi program School of Eco Diplomacy (SED). EcoNusa memandang penting pelibatan generasi muda yang tinggal di perkotaan di Tanah Papua untuk mendorong pelestarian lingkungan hidup dengan cara-cara yang popular di sosial media dan aksi nyata.

Laporan School of Eco Diplomacy (SED) 2019: Manokwari

Ancaman lingkungan dan potensi generasi muda melatarbelakangi Yayasan Econusa menginisiasi program School of Eco Diplomacy (SED). EcoNusa memandang penting pelibatan generasi muda yang tinggal di perkotaan di Tanah Papua untuk mendorong pelestarian lingkungan hidup dengan cara-cara yang popular di sosial media dan aksi nyata.

Koalisi NGO Untuk Perikanan dan Kelautan Berkelanjutan

Melihat situasi terkini, KORAL, sebuah koalisi yang terdiri dari 9 (sembilan) Organisasi Masyarakat Sipil, pun lahir untuk mengingatkan agar para pemangku kepentingan di sektor kelautan dan perikanan mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan dan menjalankan prinsip demokrasi partisipatoris.

Studi Pangan dan Tata Guna Lahan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan pangan dan gizi sebagai basis rekomendasi bagi pemerintah daerah untuk pemetaan sustainable Food and Land Use (FOLU). Pengumpulan data dilakukan antara Januari dan April 2019 melalui pengumpulan data primer (wawancara mendalam, wawancara kelompok pada workshop, diskusi kelompok terarah, survei pasar, observasi), dan data sekunder (studi pustaka, analisa data sekunder). Ringkasan dibagi menjadi 4 bagian sesuai dengan pembahasan di dalam laporan: Pemanfaatan pangan, Akses pangan, Ketersediaan pangan, dan Pemerintahan.

Deklarasi Manokwari

Deklarasi Manokwari menyantumkan visi bersama Tanah Papua yaitu "Tanah Papua Damai, Berkelanjutan, Lestari, dan Bermartabat". Terdapat empat belas poin yang menegaskan komitmen pemerintah dan mitra pembangunan guna menjaga alat dan memperkuat masyarakat Tanah Papua.

Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved