Bekerja dengan Kami
Program
JARINGAN EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT ADAT

Masyarakat adat bekerja bersama untuk membangun inisitif ekowisata lokal

Kepulauan Maluku dan Tanah Papua masih memiliki hutan hujan tropis yang relatif masih utuh dibanding wilayah lain di Indonesia.  Luasnya mencapai 38.660.805,42 hektare menurut peta tutupan lahan KLHK (2018).  Hutan hujan tropis ini menjadi sumber oksigen, cadangan plasma nutfah, sumber bahan obat-obatan, penyedia jasa lingkungan untuk mengatur sistem tata air, mencegah erosi, mengontrol pola iklim dan menyimpan cadangan karbon. Hutan tropis ini juga menjadi tempat tinggal berbagai satwa unik yang tidak ditemukan di wilayah lain. Misalnya burung Cenderawasih (bird of paradise) yang hanya terdapat di Kepulauan Maluku dan Papua. Ada pula burung pintar Namdurpolos (Vogelkop Bowerbird) yang sangat pandai menata sarang indahnya di lantai hutan. Ini hanyalah satu contoh betapa potensi hasil hutan bukan kayu sangat menarik sebagai obyek wisata alam.

 

Untuk mewujudkan kedaulatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan terutama di wilayah timur Indonesia, Yayasan EcoNusa mendorong pengembangan wisata alam atau ekowisata berkelanjutan. Ekowisata di kawasan hutan alam memberikan manfaat ekologi dan ekonomi.Menjaga kelestarian hutan, laut dan pesisir sebagai obyek wisata alam akan menarik kunjungan wisatawan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat setempat.

 

EcoNusa melalui Program Eastern Indonesia Forest Facility (EIFF) memetakan potensi pengembangan ekowisata oleh masyarakat adat melalui rangkaian penilaian cepat di beberapa kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat.  Bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua dan Papua Barat, Yayasan EcoNusa mengajak masyarakat adat yang memiliki dan mengelola ekowisata di seluruh Tanah Papua untuk membangun jaringan komunikasi dan kerja sama dalam pengembangan ekowisata di Tanah Papua.

 

EcoNusa memasilitasi terciptanya sebuah platform komunikasi dan pembelajaran antarpemilik atau pengelola ekowisata melalui jaringan kerja sama yang disebut Jaringan Ekowisata Tanah Papua.  Melalui jaringan kerja sama ini, EcoNusa juga mendorong peningkatan kualitas manajemen usaha ekowisata melalui pelatihan dan magang antarpelaku ekowisata.  Strategi selanjutnya untuk mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat adat di Tanah Papua ini  dilakukan dengan membuka akses pasar yang lebih luas melalui promosi di tingkat nasional dan internasional.

 

Saat ini Jaringan Ekowisata Tanah Papua memiliki 17 Orang Asli Papua sebagai pelaku dan pemilik ekowisata di 12 lokasi yang tersebar di 10 kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat.  Jaringan pelaku ekowisata berbasis masyarakat adat di wilayah timur Indonesia ini akan terus berkembang semakin luas. Dengan demikian, upaya perlindungan dan konservasi  kawasan hutan alam, laut dan pesisir pun akan semakin luas cakupannya.  Wisata alam yang dikelola secara berkelanjutan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat.      

Program Lainnya
Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved