Bekerja dengan Kami
EcoStory
Komitmen Pembangunan Berkelanjutan dan Peluang Pembiayaan Pelestarian Hutan di Tanah Papua

Provinsi Papua Barat dan Papua memiliki komitmen bersama untuk menjaga sumber daya alam Tanah Papua dan melindungi masyarakat adat. Komitmen tersebut tertuang dalam Deklarasi Manokwari pada 2018 lalu. 

Tradisi Sasi di Kampung Mandoni

Kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam menjadi bukti relasi masyarakat dengan alam sekitarnya. Kebutuhan masyarakat tak hanya satu-satunya titik perhatian, melainkan juga keberlanjutan dan kelestarian ekosistem. Hal ini memungkinkan terciptanya keseimbangan pemenuhan ekonomi dan konservasi sumber daya alam.

Surga Tersembunyi di Pegunungan Arfak

Melalui ekowisata di Kampung Mokwam, Pegunungan Arfak, Papua Barat, dapat hidup berdampingan dengan alam. Mereka memanfaatkan keberadaan hutan sekaligus menjaganya.

Pulau Kelelawar di Fakfak

Pulau Paniki atau Pulau Kelelawar terletak di dekat Kampung Ugar, Disktrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Penamaan pulau mengacu pada banyaknya kelelawar yang hidup di sana. Bila dikelola dengan baik, Pulau Paniki dapat berpotensi menjadi salah satu atraksi ekowisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan dan menjadi situs edukasi untuk mengenal kelelawar terbesar di dunia.

Perjuangan Rani, Nelayan Muda di Kampung Kambala

Bagi Rani, menjadi pencari teripang untuk memenuhi kebutuhannya, tak memendam hasrat untuk mengejar cita-cita. Keinginannya membantu orang banyak menetapkan hatinya untuk menjadi perawat. Baginya pendidikan adalah kunci untuk membentang cakrawala menuju kehidupan yang baru.

Nelayan Udang di Aruba

Udang menjadi komoditas perairan dan didukung luasnya ekosistem mangrove di Teluk Bintuni, Papua Barat. Selain udang, mangrove juga menjadi tempat pemijahan komoditas perikanan lain yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Teluk Bintuni menopang 10 % dari luas mangrove Indonesia, oleh karena itu harus dijaga demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Terdesaknya Nelayan Asli Papua

Perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya ikan secara berlebihan membuat nelayan kesulitan mendapatkan ikan. Intervensi berupa pembuatan zonasi penangkapan dan pemberlakuan sasi dapat diterapkan agar populasi ikan kembali meningkat. Selain itu, pelatihan di bidang lain dapat menunjang kemampuan nelayan bertahan hidup selama menunggu sasi atau saat ikan sulit didapatkan.

Mengenal Pohon Matoa Merah

Berbeda dengan matoa biasa, buah pohon matoa merah (Pometia coroacea) tidak dapat dimakan, manusia memanfaatkannya sebagai bahan dasar furnitur. Matoa merah yang banyak tumbuh di kawasan pesisir menjadi rumah bagi banyak satwa liar, terutama burung kasuari. Sebagai tempat bersarang, tempat perkawinan, dan sumber makanan. Menjaga populasi matoa merah berarti sama dengan menjaga habitat satwa liar di Papua.

Blue Water Mangrove Raja Ampat

Blue water mangroves memiliki sistem akar yang kuat dan melebar, sehingga cocok menjadi tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil. Salah satunya bisa ditemui di Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Pelaku wisata juga mengambil manfaat dari ekosistem ini sebagai daya tarik wisatawan untuk melihat pemandangan bawah laut. Dengan menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove, ikan serta terumbu karang di sekitarnya akan tetap lestari sekaligus menjamin kehidupan masyarakat di sekitar kawasan itu terjaga.

Cara Mencari Kerang di Kampung Mandoni

Surutnya air laut menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Kampung Mandoni, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Salah satunya adalah Mama Aminah yang berprofesi sebagai pencari kerang. Kerang didapatkan tanpa alat bantu apapun, hanya mengandalkan tangan kosong. Mama Aminah dan masyarakat di Kampung Mandoni sangat selektif saat mengambil kerang. Mereka tak pernah mengambil kerang berukuran kecil. Hal ini dilakukan agar ekosistem kerang terus terjaga dan tetap lestari. Dengan menjaga ekosistem seperti itu masyarakat di Kampung Mandoni sadar bahwa sesuatu yang di ambil berlebihan, justru akan membawa kesengsaraan di kemudian hari.

Peson Air Terjun Kiti Kiti

Air Terjun Kiti Kiti adalah destinasi wisata yang berada di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Nusalasi, Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat. Selain laut lepas, kita juga disuguhi pemandangan vegetasi hutan hijau disekelilingnya. Air Terjun Kiti Kiti, sebutan warga setempat untuk ruangan air terjun yang serta-merta jatuh ke laut. Selain air terjun, disini juga terdapat keindahan bawah laut yang memukau dengan beragam jenis terumbu karang dan ikan.

 

Menjaga hutan dan alam disekelilingnya, kita juga menjaga kelestarian dan keindahan Air Terjun Kiti Kiti.

Daun Gatal Papua

Pengobatan alternatif yang masih menjadi andalan masyarakat Indonesia membuat tanaman banyak dimanfaatkan. Salah satunya daun gatal dari Indonesia Timur ini yang memiliki beragam manfaat.

 

Daun gatal banyak tumbuh di hutan lebat di Papua dan Maluku. Secara turun-temurun daun ini dipakai masyarakat adat untuk pengobatan tradisional seperti gatal-gatal, pegal linu, sampai membantu proses persalinan.

 

Dengan menjaga kawasan hutan lebat tetap ada, berarti kita juga memastikan keberadaan daun gatal sebagai sumber pengobatan bagi masyarakat selalu tersedia

Berburu Kepiting Jumbo di Kampung Mandoni Fakfak

Pesisir selatan Papua Barat memiliki hamparan ekosistem mangrove terluas di Indonesia yang kaya akan biodiversitas seperti ikan, kepiting, dan kerang. Selain fungsinya melindungi kampung dari gelombang besar, hutan mangrove merupakan sumber penghidupan masyarakat adat setempat. Hanya dengan mencari kepiting bakau, Mama Maryam bisa menyekolahkan anaknya ke luar pulau hingga lulus kuliah. Menjaga kelestarian mangrove berarti menjamin penghidupan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Indonesia.

Suku Moi Kelim, Hutan Kami Hidup Kami

 

Lebih dari 250 lebih kelompok suku asli di Tanah Papua, dengan bahasa yang unik dan berbeda. Sebagian besar suku-suku asli menggantungkan hidupnya pada hutan hujan tropis yang luasnya hampir setara dengan 215 kali kota London di Inggris. Hutan-hutan di Tanah Papua adalah masa depan Iklim Indonesia dan Dunia, masa depan penghidupan masyarakat adat. Yayasan EcoNusa mendorong ekoturisme berbasis masyarakat adat yang Berkelanjutan. Aksi nyata bersama menyelamatkan hutan akan membantu memastikan penghidupan berkelanjutan masyarakat asli di Tanah Papua.

Aksi Bersama Bersih Pantai Tanjung Bayang

Yayasan EcoNusa, Pandu Laut Nusantara dan Yayasan Konservasi Laut (YKL) mengadakan gerakan bersih pantai dan laut (Beach Clean-Up/BCU) di Pantai Tanjung Bayang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 15 Maret 2020. Aksi bersih pantai ini berhasil mengumpulkan lebih dari 1,4 ton sampah terutama sampah plastik sekali pakai.

Ekspedisi Mangrove (trailer)

Ekspedisi Mangrove dilaksanakan sebagai upaya pelestarian mangrove, serta pengamatan lapangan secara intensif pada daerah yang telah ditentukan untuk mendapatkan gambaran yang akurat mengenai mangrove setempat.

Yayasan EcoNusa bersama Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, Universitas Papua (Unipa), dan World Resources Institute (WRI) Indonesia melakukan perjalanan ini pada 2-17 desember 2019, menyusuri lebih dari 1000 km di pesisir pantai selatan Papua Barat.

“Indonesia memiliki 3,1 juta hektar wilayah mangrove. Angka tersebut setara dengan 22 persen ekosistem mangrove di seluruh dunia. Wilayah mangrove yang terluas ada di Provinsi Papua Barat dengan luas 482,029 hektare,” kata Bustar Maitar.

Momotoa: Penjaga Alam Tanah Papua

Sa pu nama Momotoa. Sa lahir dari pohon matoa di rimba Tanah Papua. Pohon Matoa adalah pohon khas Tanah Papua.

Banyak Sampah Tekstil

Saat Menghadap Laut 2.0 di Pantai Timur, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, banyak sekali sampah tekstil yang kami temukan. Sampah tekstil tersebut sulit dibersihkan. Menggumpal dan menyatu dengan pasir pantai. Tidak kebayang kalau sampah-sampah itu masuk ke laut. Betapa banyak organisme yg menderita akibatnya.

Cerita dari Danau Kembar di Pegunungan Arfak

Tim EcoNusa berkesempatan untuk menjelajahi keindahan alam di Papua. Kali ini kami berangkat ke Pegunungan Arfak di mana danau kembar yang disebut Danau Anggi berada. Seperti apa kisahnya? Ikuti terus petualangan kami.

Suku Kombai Berburu Babi Hutan

Selain sebagai metode mencari makan, berburu menjadi cara mengakrabkan diri antar laki-laki Suku Kombai, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Proses berburu menghabiskan waktu sekitar 3-4 hari. 

Rumah Pohon Suku Kombai

Suku Kombai, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, tinggal di rumah pohon dengan ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. Selain Suku Kombai, Suku Korowai dan Suku Citak juga mendiami rumah pohon sebagai tempat tinggal mereka.

Bakar Batu, Kuliner Khas Papua

Untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, Suku Kombai biasa bekerja meramu sagu. Seperti di film berikut, Suku Kombai membakar batu sebagai media untuk membuat kuliner khas Papua, yakni sagu bakar. Tonton sampai habis ya..

Pesta Ulat Sagu - Menjaga Tradisi Merawat Bumi

Festival Pesta Ulat Sagu yang di selenggarakan pada tahun 2018 ini menyimpan cerita nya tersendiri. Pesta Ulat Sagu juga merupakan ritual adat rutin dari masyarakat adat Suku Kombay

Rumah EcoNusa Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved