Bekerja dengan Kami
EcoStory
Ekspedisi Maluku EcoNusa 2020

27 hari berlayar, menempuh 2000 kilometer, EcoNusa berkesempatan untuk mengunjungi 25 wilayah yang di jalur rempah, dari Sorong, Ternate, Ambon hingga Neira.

Ikuti terus perjalanan kami selama 22 Oktober hingga 18 November 2020 melalui akun media sosial EcoNusa.

Semoga kegiatan yang dilakukan dapat terus berjalan lancar ya!

 

#beradatjagahutan

Senja Di Kaimana

Keindahan pancaran cahaya senja di Kaimana menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ditemani dengan segarnya hasil olahan sumber daya perikanan, Kaimana masuk dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi di Tanah Papua.


Artist: ALFIAN
Title: "Senja Di Kaimana"
Album: Kenangan Manis Vol.2
Prod. : 2017 (Re-released)

 

#beradatjagahutan

Ancaman di Tanah Papua

Hutan di Tanah Papua memiliki peran signifikan terhadap upaya pengawasan yang global. Dengan luas hutan 33,6 juta hektare, hutan Tanah Papua menyimpan 6,3 gigaton karbon. Tanpa perencanaan pembangunan berkelanjutan, kerusakan hutan di Tanah Papua tidak dapat dihindari. Dampaknya akan dirasakan hingga seluruh penjuru dunia.

 

#beradatjagahutan

Potensi Laut di Tanah Papua

Masyarakat dan pengunjung wisata bahari memiliki peran penting untuk menjaga keberlangsungan habitat dan sumber daya perikanan di Tanah Papua. Dengan menerapkan prinsip ekowisata, wisatawan dituntut untuk dapat bertanggung jawab dalam setiap aktivitas wisata yang terjadi.

 

#beradatjagahutan

Bidadari Halmahera | Burung Surga dari Kepulauan Maluku

Indonesia Timur adalah gudang bagi satwa endemik dunia. Tak hanya di Pulau saja, melainkan juga di Kepulauan Maluku. Burung bidadari halmahera (Senioptera wallaci) adalah salah satu satwa endemik dari Kepulauan Maluku yang keindahannya memikat mata siapapun yang melihatnya.

 

Burung surga yang masih berkerabat dengan burung cenderawasih ini menjadi penghuni Pulau Halmahera, Pulau Bacan, dan Pulau Kasiruta.

 

Statusnya yang kini terancam punah memerlukan kontribusi kita semua untuk tetap melestarikan hutan dan satwa-satwa endemik yang tinggal di dalamnya.

 

#beradatjagahutan

Masyarakat Adat Penjaga Hutan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak besar pada kehidupan masyarakat perkotaan. Namun, juga masyarakat adat yang hidup di sekitar hutan.


Pola hidup masyarakat adat yang komunal dan saling bergantung satu sama lain, membuat mereka sulit menerapkan jaga jarak. Sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan menambah risiko penularan Covid-19 menjadi semakin tinggi.


Padahal, masyarakat adat adalah garda terdepan perlindungan hutan-hutan Indonesia.


Mari kita bersama-sama turut berkontribusi menjaga hutan Indonesia dan masyarakat adat para penjaganya!

 

#beradatjagahutan

SAIL TO CAMPUS - Universitas Negeri Papua: Ekspedisi Mangrove Bercerita

Tahukah kamu, ternyata 39,50% atau 1.350.600,00 ha hutan mangrove di Indonesia ada di Tanah Papua, lho! Nah, dari luasan tersebut, 0,3 juta ha berada di Papua Barat.

 

Hutan mangrove di Papua Barat menyimpan berbagai cerita. Selain dimanfaatkan masyarakat pesisir untuk mencari berbagai biota biota laut bernilai ekonomis seperti kepiting bakau dan ikan kakap, hutan mangrove juga menyimpan cadangan stok karbon yang besar.

 

Menjaga hutan mangrove tentu menjadi tanggung jawab kita bersama.

Hutan di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku | Ibarat Mama yang Menghidupi

Masyarakat yang hidup di sekitar hutan di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku bergantung pada hasil-hasil hutan. Bagi mereka, hutan adalah mama yang memberi kehidupan. Mencukupi kebutuhan dan menyediakan segala yang diperlukan.

 

Sayangnya, kerusakan hutan yang kian hari kian meresahkan turut mengancam sumber kehidupan mereka.

 

Perlu andil kita bersama untuk turut melindungi hutan-hutan di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku yang menjadi benteng terakhir hutan Indonesia.

 

#beradatjagahutan

Hutan Papua | Benteng Terakhir Hutan Indonesia

Hutan Papua, Benteng Terakhir Hutan Indonesia. Gudang Flora dan Fauna Endemik Dunia

 

Setelah hutan di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan terus menyusut, hutan-hutan di pulau Papua menjadi benteng terakhir hutan Indonesia karena tutupan hutan dan biodiversitas tinggi yang terkandung di dalamnya.


Luas tutupan hutan di Tanah Papua seluas 33,64 juta hektar menyimpan cadangan karbon sebanyak 5,55 Giga TonneC yang menyumbang untuk keseimbangan iklim dunia. Tanah Papua memiliki hutan mangrove, hutan dataran rendah, hingga padang rumput alpine.


Tanah Papua memiliki 125 jenis memalia (55 persen endemik), 223 jensi reptil (35 persen endemik), dan 602 jenis burung (52 persen endemik). Berdasarkan hasil penelitian di jurnal Nature Agustus 2020, Tanah Papua memiliki biodiversitas flora tertinggi di dunia, yakni 16% keanekaragaman tumbuhan dunia. 9.000 dari 13.000 spesies yang tumbuh di hutan Papua endemik atau tidak ditemukan di tempat lain.
Penelitian itu pun menggeser Madagaskar yang sebelumnya berada di urutan pertama.


#beradatjagahutan

Hindia - Dehidrasi | Kita Hidup dengan Meminjam Bumi dari Anak Cucu Kita

Hindia setuju dengan pepatah tua yang mengatakan, manusia hidup dengan meminjam bumi dari anak cucunya.

 

Pola pikir ini yang semestinya ditanamkan di benak setiap manusia, agar saat dikembalikan kepada generasi selanjutnya, bumi masih dalam keadaan sama.
Dalam upaya menjaga lingkungan, manusia pun tidak ada yang sempurna. Namun, yang terpenting adalah melakukan apapun yang kita bisa, mulai dari hal kecil dalam keseharian.
Dengan hal-hal kecil itu, akan memberikan dampak yang positif untuk masa depan bumi. Karena pada akhirnya, hutan-hutan yang akan menopang kehidupan. Dan manusia hanyalah hidup dengan menumpang di bumi.


#beradatjagahutan

MARI CERITA PAPUA & MALUKU - Kemuliaan Alam dalam Iman

Indonesia Timur merupakan salah satu wilayah dengan tutupan hutan terluas di Indonesia yakni 33 juta ha di Tanah Papua dan 6 juta ha di Kepulauan Maluku. Namun sayangnya, saat ini hutan Papua tidak lepas dari bayang-bayang konversi lahan.

 

Padahal sejatinya, hutan merupakan wujud karunia yang tak ternilai dari Sang Pencipta yang perlu dijaga. Dengan berbagai potensi yang luar biasa, hutan menjadi habitat dari berbagai jenis flora dan fauna, serta juga menyokong mata pencaharian bagi jutaan orang khususnya masyarakat adat di sekitarnya.

 

Selain itu, hutan di wilayah Indonesia Timur juga memiliki peran yang sentral dalam menekan laju perubahan iklim di dunia.

 

Untuk melestarikan hutan, ada berbagai kearifan lokal dan upaya religius yang telah dilakukan. Nah, penasaran bagaimana peran para pemuka agama dan pemuka adat dalam melindungi hutan di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku?

 

Jangan sampai ketinggalan diskusi asik Mari Cerita Papua & Maluku: Kemuliaan Alam dalam Iman, sebuah perspektif lintas agama dalam upaya perlindungan hutan.

Iwa K | Jangan Sampai Hutan Menjadi Dongeng untuk Anak Cucu Kita Nanti

Iwa K yakin, sejak dulu kearifan lokal yang dimiliki leluhur manusia selalu memuat budaya untuk menjaga lingkungan, meski praktiknya dikaitkan dengan keyakinan adat istiadat. Kearifan lokal itulah yang perlu didekatkan kembali kepada generasi sekarang dengan cara yang lebih modern. Dengan begitu, Iwa K berharap hutan tetap lestari dan jangan sampai hutan hanya menjadi dongeng untuk anak cucu kita kelak!


#beradatjagahutan

Presentation Day - Ilmuwan Muda Papua 2020

Penelitian ilmiah sangat dibutuhkan untuk mendukung komitmen Provinsi Papua dan Papua Barat sebagai provinsi pembangunan berkelanjutan. Untuk mengajak mahasiswa mahasiswi di Tanah Papua menjadi peneliti handal, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat dan Yayasan EcoNusa meluncurkan program Kompetisi Ilmuwan Muda Papua.

Michael Jakarimilena | Tak Perlu Menunggu Viral, Jaga Hutan Mulai Hari Ini

Sebagai pemuda yang tumbuh besar di Tanah Papua, Michael Jakarimilena akrab sekali dengan hutan. Selayaknya orang Papua pada umumnya, baginya hutan merupakan ibu, yang menjadi poros kehidupan. Untuk itu, menjaga hutan merupakan suatu keharusan. Tak perlu menunggu viral, menjaga hutan bisa dilakukan oleh siapa saja.


#beradatjagahutan

DIBALIK LAYAR | Konser Hutan Merdeka #BeradatJagaHutan

Musik adalah bahasa universal yang mampu menyampaikan berbagai pesan kehidupan, tak terkecuali pesan-pesan tentang isu lingkungan hidup.

 

Sabtu, 29 Agustus 2020 pukul 17.00 WIB | 18.00 WITA | 19.00 WIT, di Youtube EcoNusa TV yang bertepatan dengan Kemerdekaan Indonesia ke 75 Tahun, Yayasan EcoNusa mempersembahkan Konser Hutan Merdeka #BeradatJagaHutan. Bersama sederetan musisi Indonesia mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda, untuk peduli pada hutan-hutan Indonesia dan masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya melalui lagu-lagu yang akan mereka bawakan.

 

Menampilkan pertunjukan musik dari SLANK, Barasuara, Nowela, Hindia, Iwa K, Ipang, Michael Jakarimilena, Molucca Bamboowind Orchestra, dan Bengkel MambriBen. Acara dipandu oleh Nirina Zubir dan Teuku Zacky.

Apa Kata Dorang

Seberapa jauh kita mengenal saudara kita di Tanah Papua? Pertanyaan sederhana ini relatif sulit dijawab. Kadang bikin alis kita saling mendekat. Seperti daerah lainnya di Indonesia, beragamnya suku bangsa dan budaya di Tanah Papua serta kekayaan alamnya sangat menarik untuk diketahui. Seperti kata petuah orang bijak, tak kenal maka tak sayang. Begitu kenal, rasanya sulit untuk dilupakan.


#beradatjagahutan

Konser Hutan Merdeka #BERADATJAGAHUTAN [ Full HD ]

Musik adalah bahasa universal yang mampu menyampaikan berbagai pesan kehidupan, tak terkecuali pesan-pesan tentang isu lingkungan hidup.


Sabtu, 29 Agustus 2020 pukul 17.00 WIB | 18.00 WITA | 19.00 WIT, di Youtube EcoNusa TV yang bertepatan dengan Kemerdekaan Indonesia ke 75 Tahun, Yayasan EcoNusa mempersembahkan Konser Hutan Merdeka #BeradatJagaHutan. Bersama sederetan musisi Indonesia mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda, untuk peduli pada hutan-hutan Indonesia dan masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya melalui lagu-lagu yang akan mereka bawakan.


Menampilkan pertunjukan musik dari SLANK, Barasuara, Nowela, Hindia, Iwa K, Ipang, Michael Jakarimilena, Molucca Bamboowind Orchestra, dan Bengkel MambriBen. Acara dipandu oleh Nirina Zubir dan Teuku Zacky.

#STC Universitas Khairun Ternate

WEBINAR "MALUKU UTARA BERAKSI LAWAN PLASTIK SEKALI PAKAI UNTUK LAUT BERKELANJUTAN"

 

Narasumber:
- Dr. Ir. Aryo Hanggono, DEA. - Dirjen PRL Kementrian Kelautan dan Perikanan
- Fachruddin Tukuboya, ST., MM - Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maluku Utara
- Halikuddin Umasangaji, Ph.D – Peneliti (microplastic) Koordinator Program Studi Ilmu Kelautan Universitas UNKHAIR
- Dr. Nurhalis Wahidin, M.Sc – Peneliti (Sistem informasi volume sampah dilaut) & Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas UNKHAIR
- Ikbal M Nur - Nelayan & Masyarakat Pesisir
- Erlena Umanahu - Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan UNKHAIR


Moderator:
Lukita Grahadyarini – Jurnalis Harian Kompas

Tanah Papua - Benteng Terakhir Hutan Tropis Dunia

Tahukah kamu, saat ini Tanah Papua menjadi salah satu benteng terakhir hutan tropis dunia. Namun, adanya konversi lahan hutan membuat lahan Hutan Papua terus berkurang.

 

Nah, kali ini kita akan membahas lebih lanjut soal Hutan Papua bersama Bustar Maitar, CEO Yayasan EcoNusa.

Wonderful Papua Online Blogger Gathering

Sudah bukan rahasia lagi bahwa tanah Papua adalah tanah yang kaya. Kaya alamnya, kaya budayanya dan kaya akan destinasi ekowisata.

 

ECONUSA dan Blogger Perempuan Network mempersembahkan Live Streaming Wonderful Papua (Papua Destinasi Hijau).

SLANK - Hutan Karma | SOS Rainforestlive | #dirumahaja

Hutan hujan adalah sumber kehidupan untuk makhluk hidup dan penyeimbang iklim dunia. Di tengah pandemi Covid-19, ancaman terhadap kerusakan hutan dan keberlangsungan masyarakat adat terus saja terjadi.

 

Dalam Menyambut Hari Hutan Hujan Dunia pada 22 Juni 2020 lalu, EcoNusa Foundation dan @rainforest_foundation mengajak dan mendukung perjuangan masyarakat adat melawan Covid-19 dan melindungi hutan hujan.

Pelestarian Mangrove di Mandoni

Masyarakat menerapkan peraturan adat untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove. Mereka membagi hutan mangrove berdasarkan wilayah pertuanan sehingga tak sembarang orang bisa masuk dan menggunakan sumber daya di dalam hutan mangrove, seperti penerapan sasi. Barangsiapa yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai kesepakatan marga atau suku. #beradatjagahutan

Menilik Bahaya Plastik Sekali Pakai | Sail to Campus

Program Kelautan Yayasan Econusa bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Indonesia mengajak kaum muda agar ikut ambil bagian memerangi sampah plastik sekali pakai di lautan dalam seri webinar *Sail to Campus: "Menilik Bahaya Plastik Sekali Pakai dan Peran Kaum Muda Mendukung Laut Sehat"* pada *Rabu, 22 Juli 2020 pukul 14.00 WIB* di aplikasi *ZOOM* melalui registrasi di *bit.ly/STCUI* dan dapat disaksikan *live di Youtube EcoNusa TV* . Diskusi ini menanggapi keprihatinan akan kekayaan ekosistem laut Indonesia yang kini menghadapi ancaman bahaya sampah plastik, terutama plastik sekali pakai yang berbahaya bagi ekosistem dan biota laut. Riset Jenna Jambeck, peneliti Universitas Georgia, Amerika Serikat tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Webinar menghadirkan *Keynote Speaker* : Ir. Andono Warih, M.Sc., (Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta). *Pemateri* : - Syaharani, (Koordinator Bidang Sosial Politik BEM FH UI 2020). - Switenia Puspa Lestari (influencer dan CEO of Divers Clean Action) . - Tiza Mafira (Influencer dan CEO Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik). *Penanggap* : Prof. M. R. Andri Gunawan Wibisana, S.H., LL.M., Ph.D. (Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Guru Besar Ilmu Hukum Lingkungan). Dimoderatori Sumardi “Aree” Ariansyah dari Yayasan Econusa. *Jangan sampai terlewat. Ayo jaga laut kita, masa depan bangsa!*

Hutan Tropis dan Ancaman-ancamannya | Kelas Belajar SED

Hutan Papua benteng terakhir masa depan Indonesia 🌳

Memiliki hutan yang luas dan sumber daya alam yang tinggi, tidak membuat hutan di Tanah Papua terhindar dari ancaman aktivitas ekstraktif.

Sebagai kaum muda di Tanah Papua, mengetahui kondisi hutan dan ancaman-ancaman yang terjadi saat ini menjadi hal yang sangat penting, mengingat kaum muda sebagai ujung tombak pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Untuk mengenal lebih jauh tentang hutan Papua, berikut kelas belajar online tentang *Hutan Tropis di Tanah Papua dan Ancaman-ancaman-nya*.

Dilaksanakan pada:

🗓️ Selasa, 21 Juli 2020
⏰ 11.00-12.00 WIB/13.00-14.00 WIT
🎥 Via Zoom

Narasumber:
Darkono Tjawikrama
(Koordinator Penelitian dan Geospasial, Yayasan
EcoNusa)

Moderator:
Roberto Yekwam (School of Eco Diplomacy Program - 2019)

BAKAU HARAPAN

Masyarakat di Kampung Friwen dan Manyaifun, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, memahami pentingnya keberlangsungan ekosistem mangrove. Mereka menyadari eksploitasi berlebih hanya akan membawa kerugian bagi masyarakat kampung kelak. #beradatjagahutan

Nelayan Ikan di Distrik Babo

Mangi-mangi atau mangrove membawa berkah bagi masyarakat sekitar. Ekosistem mangrove menjadi tempat pemijahan, asuhan, dan tempat mencari makan bagi fauna perairan yang hidup di sekitarnya. Serupa dengan kondisi nelayan di Kampung Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, daerah lain dengan ekosistem mangrove yang lebat juga merasakan berkah yang sama. Mereka akan terus menjaga keutuhan mangrove untuk menjaga keberlangsungan ekosistem dan mewariskannya kepada anak-cucu.

Penguatan Pengelolaan Perikanan WPP 712 Khussunya di Pesisir Timur Lampung

Tingginya tingkat eksploitasi ikan, kerusakan habitat sumber daya ikan, polusi dan pencemaran wilayah perairan WPPNRI 712 mengakibatkan turunnya kualitas dan stok sumber daya ikan disertai dengan penurunan hasil tangkapan dan perubahan struktur populasi. Berdasarkan keputusan KEPMENKP No.79 tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 712, tingkat pemanfaatan sumber daya ikan di WPPNRI 712 sebagian besar berada pada status over-exploited. Permasalahan ini perlu mendapatkan perhatian, khususnya untuk wilayah pesisir Lampung. Program Kelautan Yayasan Econusa bekerja sama dengan Universitas Lampung mengajak kaum muda untuk ikut mendukung penguatan kebijakan untuk mewujudkan laut yang sehat melalui Diskusi Online “Sail to Campus, Penguatan Pengelolaan Perikanan WPP 712 Khususnya Pesisir Timur Lampung dalam Pendekatan Multi-Fisheries”.

Being an Eco Traveler

Berwisata menjadi gaya hidup yang semakin digemari semua kalangan. Namun, seiring dengan meningkatnya aktivitas wisata, kerusakan lingkungan di sekitar destinasi wisata pun semakin meningkat. Salah satu solusi untuk meminimalisir kerusakan lingkungan terutama di area wisata dengan menerapkan ekowisata, yaitu bentuk praktik wisata yang menggabungkan wisata dan konservasi. Dengan ekowisata, para wisatawan dan operator wisata dituntut untuk bertanggung jawab ikut menjaga dan melestarikan lingkungan.

 

Yayasan EcoNusa bekerjasama dengan Mr & Ms LSPR, LSPR 4C, dan Bhamahira LSPR mengadakan webinar berjudul “Being an Eco Traveler, Responsible to Nature Through Ecotourism: Pentingnya Menjaga Keanekaragaman Hayati Tanah Papua Melalui Ekowisata ”dan mengajak para generasi muda untuk bijak saat berwisata serta mengenal lebih jauh tentang ekowisata dan praktik ekowisata di Tanah Papua.

Potensi Pala di Kabupaten Fakfak

Pala Fakfak (Myristica argantea Warb) merupakan tanaman asli Indonesia. Selain tumbuh di hutan, pala Fakfak dibudidayakan menggunakan benih turunan dari pohon pala di hutan. Sebagian besar penduduk Fakfak memiliki lahan untuk menanam pala. Melimpahnya hasil produksi membuat Kabupaten Fakfak dijuluki Kota Pala. Pala dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan obat atau kosmetik. Penduduk lokal mengolah pala menjadi manisan, dodol, dan sirup.

Sosialisasi Program Ilmuwan Muda Papua

Penelitian ilmiah sangat dibutuhkan untuk mendukung komitmen Provinsi Papua dan Papua Barat sebagai provinsi pembangunan berkelanjutan. Untuk mengajak mahasiswa mahasiswi di Tanah Papua menjadi peneliti handal, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat dan Yayasan EcoNusa meluncurkan program Kompetisi Ilmuwan Muda Papua. Untuk mengenal lebih lanjut tentang program Ilmuwan Muda Papua kepada generasi muda di Tanah Papua, diselenggarakan webinar Ilmuwan Muda Papua.

Hutan Mangrove Sumber Penghidupan

Hutan mangrove Teluk Bintuni yang menjadi hutan mangrove terbesar di Papua Barat tak lepas dari ancaman. Aktivitas perusahaan berpotensi merusak dan mengurangi luasan hutan mangrove, seperti aktivitas pembalakan kayu dan aktivitas perusahaan tambang minyak dan gas yang sebagian besar wilayah konsensinya berada di kawasan mangrove.

Usaha Homestay Mengubah Pola Pikirku

Ekowisata dapat menjadi jawaban terhadap pengelolaan hutan dengan mengedepankan aspek konservasi. Ekowisata menyajikan keindahan alam kepada wisatawan sekaligus memberikan manfaat finansial kepada masyarakat setempat. Kerusakan lingkungan mereda, hutan dan laut pun terjaga.

Balada Orang-Orang Pedalaman

Hutan hujan adalah sumber kehidupan untuk makhluk hidup dan penyeimbang iklim dunia. Di tengah pandemi Covid-19, ancaman terhadap kerusakan hutan dan keberlangsungan masyarakat adat terus saja terjadi. Dalam Menyambut Hari Hutan Hujan Dunia pada 22 Juni 2020 lalu, EcoNusa Foundation dan Rainforest Foundation mengajak dan mendukung perjuangan masyarakat adat melawan Covid-19 dan melindungi hutan hujan.

Potensi Mangrove Distrik Babo

Distrik Babo berada di wilayah administrasi Kabupaten Teluk Bintuni yang memiliki hutan mangrove seluas 225,367 hektar atau 10 persen luas hutan mangrove di Indonesia. Komoditas perikanan yang dapat dimanfaatkan berupa kepiting bakau, udang, ikan demersal dan pelagis kecil. Hutan mangrove juga berpotensi untuk dapat dikembangkan lebih jauh di sektor pariwisata, seperti ekowisata mangrove berbasis adat.

World Rainforest Day : Hutan Papua Benteng Terakhir Masa Depan Indonesia

Hutan hujan tropis di Tanah Papua berperan sebagai rumah bagi beragam jenis flora dan fauna dengan tingkat endemisitas tinggi. Selain itu, juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat adat.

SOS Rainforest LIVE | 22 Juni 2020 | Sting, Slank, Iwan Fals, and masih banyak lagi

Hutan hujan adalah sumber kehidupan untuk makhluk hidup dan penyeimbang iklim dunia. Di tengah pandemi Covid-19, ancaman terhadap kerusakan hutan dan keberlangsungan masyarakat adat terus saja terjadi. Menyambut Hari Hutan Hujan Dunia tanggal 22 Juni yang akan datang, EcoNusa dan @rainforest_foundation mengajakmu untuk mendukung perjuangan masyarakat adat melawan Covid-19 dan melindungi hutan hujan.

 

Saksikan konser musik virtual penggalangan dana melalui channel Youtube dan Tiktok Rainforest Foundation Norway serta berikan dukunganmu dengan BERDONASI melalui sosrainforest.org ! Akan ada penampilan @theofficialsting @slankdotcom @iwanfals dan banyak musisi dunia lainnya yang turut memeriahkan acara. Donasimu sangat berarti bagi keberlangsungan hutan hujan di seluruh dunia dan kehidupan masyarakat adat yang mendiaminya.

Hutan Sumber Penghidupan

Perhutanan Sosial merupakan bentuk simbiosis pengelolaan hutan antara masyarakat dan pemerintah. Dengan mendapatkan hak legalitas mengelola hutan, masyarakat dapat hidup mandiri. Sementara itu, pemerintah secara tak langsung mendapat bantuan penjagaan hutan dari aktivitas ilegal seperti pembalakan liar atau perburuan. Hingga 2019, luas areal perhutanan sosial di Papua Barat yang sudah mendapatkan surat keputusan menteri kehutanan seluas 25.228 hektare.

Wisata Batanta

Pulau Batanta menjadi habitat bagi 121 jenis avifauna dan satwa endemik lainnya. Salah satu pulau terbesar di Kepulauan Raja Ampat itu juga menjadi tempat migrasi unggas dari Papua, Pulau Salawati, dan Pulau Waigeo, terutama saat musim kawin. Bila dikelola dengan baik, potensi ekowisata di Kampung Wailebet dapat menyejahterakan masyarakat sembari melindungi hutan dan ekosistem di dalamnya

Komitmen Pembangunan Berkelanjutan dan Peluang Pembiayaan Pelestarian Hutan di Tanah Papua

Provinsi Papua Barat dan Papua memiliki komitmen bersama untuk menjaga sumber daya alam Tanah Papua dan melindungi masyarakat adat. Komitmen tersebut tertuang dalam Deklarasi Manokwari pada 2018 lalu. 

Tradisi Sasi di Kampung Mandoni

Kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam menjadi bukti relasi masyarakat dengan alam sekitarnya. Kebutuhan masyarakat tak hanya satu-satunya titik perhatian, melainkan juga keberlanjutan dan kelestarian ekosistem. Hal ini memungkinkan terciptanya keseimbangan pemenuhan ekonomi dan konservasi sumber daya alam.

Surga Tersembunyi di Pegunungan Arfak

Melalui ekowisata di Kampung Mokwam, Pegunungan Arfak, Papua Barat, dapat hidup berdampingan dengan alam. Mereka memanfaatkan keberadaan hutan sekaligus menjaganya.

Pemuda Jaga Laut dan Hutan

“Solusi Kami Ada di Alam” merupakan tema yang diusung pada Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia yang jatuh pada 22 Mei 2020 Sebagai negara mega-biodiversitas, Indonesia memiliki 17% total keanekaragaman hayati di dunia. Namun, dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati itu pun tak luput dari banyaknya permasalahan, ancaman, dan tantangan yang harus dihadapi.

Menguatkan Imun Tubuh dengan Tumbuhan Obat Papua

Saat ini, kebanyakan masyarakat di Indonesia baru mengenal “Buah Merah” sebagai tumbuhan obat dari Tanah Papua. Padahal, Papua menyimpan beragam tumbuhan obat yang dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan alami. Sekurang-kurangnya, ada 15.000 jenis tanaman obat yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Di antaranya, ada pula jenis-jenis tumbuhan obat yang mampu meningkatkan imunitas tubuh dan tentu saja berguna untuk menjaga kesehatan di masa pandemi COVID-19 ini. Apa saja tumbuhan dari Tanah Papua yang dapat dimanfaatkan sebagai obat? Tumbuhan obat mana saja yang mampu meningkatkan imunitas tubuh? Bagaimana pula hambatan pengelolaan berkelanjutan tumbuhan obat di Tanah Papua?

Budaya Kunyah Pinang

Buah Pinang telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Papua. Tumbuh di dataran rendah namun tradisi mengunyah pinang juga dilakukan oleh masyarakat dataran tinggi. Tradisi ini dibawa oleh masyarakat dataran rendah yang bekerja di wilayah pegunungan. Perdagangan pinang membuat roda perekonomian bergerak, menunjang hidup hingga memenuhi biaya pendidikan.

Perkembangan dan Opsi-opsi Tindak Lanjut Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit di Papua Barat

Provinsi Papua dan Papua Barat telah mendeklarasikan pembangunan berkelanjutan berbasis wilayah adat di Tanah Papua melalui ‘Deklarasi Manokwari’ yang ditandatangani pada 7 Oktober 2018 lalu. Upaya tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap inpres moratorium sawit dan Gerakan Penyelamatan Sumber Daya Alam (GNPSDA). Tentunya, aksi tindak lanjut dari proses ini sangatlah penting untuk dilaksanakan secara bersama-sama, baik oleh pemerintah maupun mitra pembangunan. Ingin tahu bagaimana kelanjutan perkembangan evaluasi perizinan di Provinsi Papua Barat, strategi tindak lanjut hasil evaluasi perizinan perkebunan kelapa sawit, dan tata kelola lahan yang baik bagi masyarakat sekitar area konsesi dan bekas area konsesi?

Dampak Pandemi COVID-19 bagi Ekowisata di Tanah Papua

Sektor wisata adalah salah satu yang paling terdampak dari pandemi COVID-19. Namun demikian, masyarakat pelaku wisata alam berkelanjutan atau ekowisata di Tanah Papua berusaha bertahan demi keberlangsungan usaha wisata alam yang dikelolanya. Apa saja yang dilakukan? Para pelaku ekowisata di Tanah Papua akan menceritakan bagaimana mereka menyiasati sepinya kunjungan wisata selama masa pembatasan sosial ini.

Sektor Perikanan dan Kelautan Tergerus Virus dan Omnibus

Semakin meluasnya penyebaran virus Corona tak hanya mengancam kesehatan, melainkan juga berdampak buruk pada perekonomian nasional, terutama pada mata pencaharian masyarakat. Salah satu mata pencaharian yang ikut terpukul oleh kondisi ini adalah nelayan tradisional yang menghadapi berbagai tantangan seperti berkonflik dengan nelayan yang menggunakan pukat trawl, pemasaran ikan hingga perlindungan.

Membangun Resiliensi Warga (Bagian II)

Di tengah pandemi Covid-19, hampir semua dari kita jadi kurang produktif karena harus mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan physical distancing atau isolasi mandiri demi mencegah penularan. Pemenuhan kebutuhan hidup di masa pandemi pun menjadi tantangan tersendiri, sehingga masyarakat perlu membangun resilience komunitas. Apa sih yang dimaksud dengan membangun resilience komunitas? Membangun resilience komunitas artinya menata kembali kehidupan sosial dan lingkungan yang tahan atau tangguh terhadap berbagai goncangan. Dalam hal ini misalnya bencana alam, krisis ekonomi atau wabah yang saat ini sedang terjadi. Apabila goncangan itu terjadi, masyarakat mampu menolong dirinya sendiri sehingga dapat terhindar dari jebakan kemiskinan. Dengan begitu, setelah goncangan berhasil dilewati, masyarakat dapat segera pulih kembali.

Pulau Kelelawar di Fakfak

Pulau Paniki atau Pulau Kelelawar terletak di dekat Kampung Ugar, Disktrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Penamaan pulau mengacu pada banyaknya kelelawar yang hidup di sana. Bila dikelola dengan baik, Pulau Paniki dapat berpotensi menjadi salah satu atraksi ekowisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan dan menjadi situs edukasi untuk mengenal kelelawar terbesar di dunia.

Perjuangan Rani, Nelayan Muda di Kampung Kambala

Bagi Rani, menjadi pencari teripang untuk memenuhi kebutuhannya, tak memendam hasrat untuk mengejar cita-cita. Keinginannya membantu orang banyak menetapkan hatinya untuk menjadi perawat. Baginya pendidikan adalah kunci untuk membentang cakrawala menuju kehidupan yang baru.

Membangun Resiliensi Warga (Bagian I)

Di tengah pandemi COVID-19, resiliensi warga sangat diperlukan. Apa sih resiliensi itu? Resiliensi merupakan kemampuan atau ketangguhan sebuah sistem (keluarga, warga kampung, negara) untuk bertahan dan kembali bangkit dari keterpurukan dalam pemenuhan kebutuhannya sendiri.

Nelayan Udang di Aruba

Udang menjadi komoditas perairan dan didukung luasnya ekosistem mangrove di Teluk Bintuni, Papua Barat. Selain udang, mangrove juga menjadi tempat pemijahan komoditas perikanan lain yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Teluk Bintuni menopang 10 % dari luas mangrove Indonesia, oleh karena itu harus dijaga demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Ketahanan Pangan Masyarakat Adat Tanah Papua pada Masa Pandemi

Ingin tahu bagaimana masyarakat adat di hutan, pesisir dan pulau-pulau di Tanah Papua menjaga ketersediaan pangannya dalam masa pandemi Covid-19 ini?

Satu Tungku Tiga Batu

Masyarakat Kampung Kambala di Kabupaten Kaimana menjadi cermin penerapan toleransi antar umat beragama. “Keluarga sesama manusia” menjadi pedoman hidup yang dipercaya masyarakat. Mereka tidak mengenal konflik, hanya mengenal uluran tangan untuk membantu satu sama lain. Filosofi tersebut terkenal dengan sebutan “Satu Tungku Tiga Batu”

Terdesaknya Nelayan Asli Papua

Perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya ikan secara berlebihan membuat nelayan kesulitan mendapatkan ikan. Intervensi berupa pembuatan zonasi penangkapan dan pemberlakuan sasi dapat diterapkan agar populasi ikan kembali meningkat. Selain itu, pelatihan di bidang lain dapat menunjang kemampuan nelayan bertahan hidup selama menunggu sasi atau saat ikan sulit didapatkan.

Mengenal Pohon Matoa Merah

Berbeda dengan matoa biasa, buah pohon matoa merah (Pometia coroacea) tidak dapat dimakan, manusia memanfaatkannya sebagai bahan dasar furnitur. Matoa merah yang banyak tumbuh di kawasan pesisir menjadi rumah bagi banyak satwa liar, terutama burung kasuari. Sebagai tempat bersarang, tempat perkawinan, dan sumber makanan. Menjaga populasi matoa merah berarti sama dengan menjaga habitat satwa liar di Papua.

Membangun Program Kampung Iklim di Tanah Papua

Mau tahu lebih jelas tentang Program Kampung Iklim yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)? Penasaran bagaimana Kampung Iklim di Tanah Papua menjadi peluang pengembangan program adaptasi mendukung ketahanan pangan dan energi dan mitigasi perubahan iklim yang mendukung penurunan emisi ditingkat tapak?

Green Ramadhan Untuk Menjaga Laut Lebih Sehat

Apa yang kamu ketahui tentang Green Ramadhan? Bagaimana seharusnya gaya hidup hijau di bulan puasa ini dan terlebih lagi di masa pandemi covid-19? Yuk cari tahu! #dirumahaja

Aksi Iklim Anak Muda Indonesia

Aksi Iklim, apa yang mau kamu lakukan untuk Bumi selama #dirumahaja ? Aksi nyata untuk iklim kini banyak dilakukan oleh anak muda di penjuru dunia. Berbagai langkah nyata mereka lakukan karena melihat dampak perubahan iklim yang kini telah terjadi. Salah satunya adalah plastik yang menjadi isu utama di Indonesia kini.

Blue Water Mangrove Raja Ampat

Blue water mangroves memiliki sistem akar yang kuat dan melebar, sehingga cocok menjadi tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil. Salah satunya bisa ditemui di Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Pelaku wisata juga mengambil manfaat dari ekosistem ini sebagai daya tarik wisatawan untuk melihat pemandangan bawah laut. Dengan menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove, ikan serta terumbu karang di sekitarnya akan tetap lestari sekaligus menjamin kehidupan masyarakat di sekitar kawasan itu terjaga.

Cara Mencari Kerang di Kampung Mandoni

Surutnya air laut menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Kampung Mandoni, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Salah satunya adalah Mama Aminah yang berprofesi sebagai pencari kerang. Kerang didapatkan tanpa alat bantu apapun, hanya mengandalkan tangan kosong. Mama Aminah dan masyarakat di Kampung Mandoni sangat selektif saat mengambil kerang. Mereka tak pernah mengambil kerang berukuran kecil. Hal ini dilakukan agar ekosistem kerang terus terjaga dan tetap lestari. Dengan menjaga ekosistem seperti itu masyarakat di Kampung Mandoni sadar bahwa sesuatu yang di ambil berlebihan, justru akan membawa kesengsaraan di kemudian hari.

Peson Air Terjun Kiti Kiti

Air Terjun Kiti Kiti adalah destinasi wisata yang berada di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Nusalasi, Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat. Selain laut lepas, kita juga disuguhi pemandangan vegetasi hutan hijau disekelilingnya. Air Terjun Kiti Kiti, sebutan warga setempat untuk ruangan air terjun yang serta-merta jatuh ke laut. Selain air terjun, disini juga terdapat keindahan bawah laut yang memukau dengan beragam jenis terumbu karang dan ikan.

 

Menjaga hutan dan alam disekelilingnya, kita juga menjaga kelestarian dan keindahan Air Terjun Kiti Kiti.

Daun Gatal Papua

Pengobatan alternatif yang masih menjadi andalan masyarakat Indonesia membuat tanaman banyak dimanfaatkan. Salah satunya daun gatal dari Indonesia Timur ini yang memiliki beragam manfaat.

 

Daun gatal banyak tumbuh di hutan lebat di Papua dan Maluku. Secara turun-temurun daun ini dipakai masyarakat adat untuk pengobatan tradisional seperti gatal-gatal, pegal linu, sampai membantu proses persalinan.

 

Dengan menjaga kawasan hutan lebat tetap ada, berarti kita juga memastikan keberadaan daun gatal sebagai sumber pengobatan bagi masyarakat selalu tersedia

Berburu Kepiting Jumbo di Kampung Mandoni Fakfak

Pesisir selatan Papua Barat memiliki hamparan ekosistem mangrove terluas di Indonesia yang kaya akan biodiversitas seperti ikan, kepiting, dan kerang. Selain fungsinya melindungi kampung dari gelombang besar, hutan mangrove merupakan sumber penghidupan masyarakat adat setempat. Hanya dengan mencari kepiting bakau, Mama Maryam bisa menyekolahkan anaknya ke luar pulau hingga lulus kuliah. Menjaga kelestarian mangrove berarti menjamin penghidupan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Indonesia.

Suku Moi Kelim, Hutan Kami Hidup Kami

 

Lebih dari 250 lebih kelompok suku asli di Tanah Papua, dengan bahasa yang unik dan berbeda. Sebagian besar suku-suku asli menggantungkan hidupnya pada hutan hujan tropis yang luasnya hampir setara dengan 215 kali kota London di Inggris. Hutan-hutan di Tanah Papua adalah masa depan Iklim Indonesia dan Dunia, masa depan penghidupan masyarakat adat. Yayasan EcoNusa mendorong ekoturisme berbasis masyarakat adat yang Berkelanjutan. Aksi nyata bersama menyelamatkan hutan akan membantu memastikan penghidupan berkelanjutan masyarakat asli di Tanah Papua.

Aksi Bersama Bersih Pantai Tanjung Bayang

Yayasan EcoNusa, Pandu Laut Nusantara dan Yayasan Konservasi Laut (YKL) mengadakan gerakan bersih pantai dan laut (Beach Clean-Up/BCU) di Pantai Tanjung Bayang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 15 Maret 2020. Aksi bersih pantai ini berhasil mengumpulkan lebih dari 1,4 ton sampah terutama sampah plastik sekali pakai.

Ekspedisi Mangrove (trailer)

Ekspedisi Mangrove dilaksanakan sebagai upaya pelestarian mangrove, serta pengamatan lapangan secara intensif pada daerah yang telah ditentukan untuk mendapatkan gambaran yang akurat mengenai mangrove setempat.

Yayasan EcoNusa bersama Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, Universitas Papua (Unipa), dan World Resources Institute (WRI) Indonesia melakukan perjalanan ini pada 2-17 desember 2019, menyusuri lebih dari 1000 km di pesisir pantai selatan Papua Barat.

“Indonesia memiliki 3,1 juta hektar wilayah mangrove. Angka tersebut setara dengan 22 persen ekosistem mangrove di seluruh dunia. Wilayah mangrove yang terluas ada di Provinsi Papua Barat dengan luas 482,029 hektare,” kata Bustar Maitar.

Momotoa: Penjaga Alam Tanah Papua

Sa pu nama Momotoa. Sa lahir dari pohon matoa di rimba Tanah Papua. Pohon Matoa adalah pohon khas Tanah Papua.

Banyak Sampah Tekstil

Saat Menghadap Laut 2.0 di Pantai Timur, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, banyak sekali sampah tekstil yang kami temukan. Sampah tekstil tersebut sulit dibersihkan. Menggumpal dan menyatu dengan pasir pantai. Tidak kebayang kalau sampah-sampah itu masuk ke laut. Betapa banyak organisme yg menderita akibatnya.

Cerita dari Danau Kembar di Pegunungan Arfak

Tim EcoNusa berkesempatan untuk menjelajahi keindahan alam di Papua. Kali ini kami berangkat ke Pegunungan Arfak di mana danau kembar yang disebut Danau Anggi berada. Seperti apa kisahnya? Ikuti terus petualangan kami.

Suku Kombai Berburu Babi Hutan

Selain sebagai metode mencari makan, berburu menjadi cara mengakrabkan diri antar laki-laki Suku Kombai, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Proses berburu menghabiskan waktu sekitar 3-4 hari. 

Rumah Pohon Suku Kombai

Suku Kombai, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, tinggal di rumah pohon dengan ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. Selain Suku Kombai, Suku Korowai dan Suku Citak juga mendiami rumah pohon sebagai tempat tinggal mereka.

Bakar Batu, Kuliner Khas Papua

Untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, Suku Kombai biasa bekerja meramu sagu. Seperti di film berikut, Suku Kombai membakar batu sebagai media untuk membuat kuliner khas Papua, yakni sagu bakar. Tonton sampai habis ya..

Pesta Ulat Sagu - Menjaga Tradisi Merawat Bumi

Festival Pesta Ulat Sagu yang di selenggarakan pada tahun 2018 ini menyimpan cerita nya tersendiri. Pesta Ulat Sagu juga merupakan ritual adat rutin dari masyarakat adat Suku Kombay

Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved