Bekerja dengan Kami
EcoStory
Kampung Urbinasopen Perlu Edukasi Kesehatan
22 September 2020 - oleh Muhammad Syukron Makmun
COPY LINK

Tim medis EcoNusa Covid-19 Response Raja Ampat melakukan operasi kecil pada jari Evelin yang terkena mata ikan, warga Urbinasopen, Raja Ampat. Foto: dok. EcoNusa

Evelin, seorang warga Kampung Urbinasopen, tampak lemas. Wajahnya kelihatan menahan sakit sambil memegang tangan kirinya. Sudah dua minggu telunjuk tangan kiri Evelin terkena mata ikan, sejenis kutil (plantar warts) yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV).

 

Daging tumbuh itu sebenarnya bukan penyakit yang serius asal ditangani secara tepat. Tapi perempuan berumur 19 tahun itu belum terpapar informasi tentang penanganan mata ikan secara tepat. Yang bisa dilakukannya hanya mengobati kutil itu dengan ramuan yang diracik dari dedaunan. Hasilnya, kondisinya tak kunjung membaik. Menurutnya, makin lama mata ikan itu terasa kian menyakitkan. Telunjuk tangannya sudah membengkak, hitam, dan bernanah. Area sekitar jari tangannya pun terasa gatal. Melihat kondisi ini, tim medis EcoNusa COVID-19 Response Raja Ampat menjumpai Evelin. 

 

Dokter Lalu Rahmat Yuanda Aji, akrab disapa Nanda, salah seorang tenaga medis anggota EcoNusa  COVID-19 Response Raja Ampat, menemukan bahwa kondisi jari telunjuk Evelin sudah parah. Mata ikan itu juga bukan tak mungkin akan segera menyebar ke jari-jari lain. Perlu penanganan segera. Jika tidak, terpaksa amputasi harus dilakukan. 

 

Dibantu perawat, Destyana, Dokter Nanda melakukan operasi kecil dengan peralatan yang sudah dipersiapkan. Kedua relawan medis itu menghilangkan jaringan-jaringan yang sudah mati (debridement) pada telunjuk sang pasien, kemudian menyeterilkannya dan memberikan salep Gentamicin di sekitar jari Evelin. 

 

Walaupun sudah diberikan bius lokal sebelum tindakan operasi, Evelin nyatanya masih meringis kesakitan. Namun tekad yang kuat untuk sembuh membuatnya rela menahan rasa sakit itu sampai operasi selesai. Baginya, lebih baik sakit sebentar ketimbang harus terus-menerus tertekan karena memikirkan kondisi telunjuk tangan kirinya itu. Apalagi saat ini ia sedang dalam periode menyusui anak pertamanya.

 

“Mungkin Tuhan sudah memberikan jalan (agar) dokter ke sini,” ujarnya.

 

Dokter adalah pemandangan langka di Urbinasopen. Warga kampung hanya mengandalkan mantri dan puskesmas jika mengalami masalah kesehatan. Untuk penanganan lebih lanjut yang membutuhkan pertolongan dokter, pasien mesti naik perahu selama sekitar tiga jam ke Waisai atau Sorong.

 

“Terakhir (kali) dokter datang ke pulau ini sepertinya lebih dari setahun yang lalu,” ungkap Evelin. “Apalagi dengan kondisi COVID seperti ini. (Dokter lebih jarang datang karena) Mau keluar-masuk kampung orang sudah berhati-hati,” imbuhnya.

 

EcoNusa COVID-19 Response Raja Ampat mengadakan pemeriksaan kesehatan di Kampung Urbinasopen. Kegiatan itu digelar di depan Gereja Immanuel. Begitu mengetahui ada rombongan yang hendak datang ke kampung dan menggelar pemeriksaan kesehatan, Evelin  langsung menuju gereja dan mendaftarkan diri.

 

Baca juga: EcoNusa Covid-19 Response Merespon Dampak Pandemi di Raja Ampat

 

Menurut Dokter Nanda, setiap puskesmas seharusnya minimal mempunyai dua dokter umum dan dua dokter gigi serta perawat. Tetapi, untuk daerah-daerah terpencil seperti Urbinasopen, kondisi ideal seperti demikian tentu saja terlalu utopis. Puskesmas dan mantri yang tersedia saat ini sudah cukup membuat penduduk bersyukur. Apalagi ketika mereka sadar bahwa banyak kampung lain yang bahkan tak punya petugas kesehatan satupun.

 

Namun, selain infrastruktur, Dokter Nanda juga mengatakan perlunya edukasi menyangkut pola pikir masyarakat tentang “sakit”. Belum lagi soal kesadaran kesehatan masyarakat. Masyarakat masih cenderung menyepelekan penyakit. Padahal, jika bisa mengenali gejalanya sejak dini, penanggulangan penyakit akan menjadi lebih mudah. Ia mengambil contoh kasus Evelin. Seharusnya mata ikan itu bisa disembuhkan tanpa operasi. Namun, karena mata ikan itu dicoba ditangani sendiri, kondisinya jadi lebih parah.

 

Tim medis memeriksa 31 pasien di Urbinasopen. Berdasarkan keterangan Dokter Nanda, orang dewasa di Urbinasopen rata-rata terkena osteoarthritis. Penyakit ini biasanya dialami manusia berusia 50-an, bersifat degeneratif, yang diakibatkan oleh berkurangnya cairan sendi. Biasanya yang terkena adalah sendi-sendi besar seperti lutut. Yang cukup mengejutkan, ada pula warga yang sudah mengalami osteoarthritis pada usia sekitar 30-an. Dokter Nanda menyimpulkan bahwa itu terjadi karena aktivitas berlebihan dalam mengangkat beban.

 

Sementara itu, yang dialami anak-anak umumnya adalah gatal-gatal pada badan, terutama kaki. Penyebabnya adalah bakteri Gram-positif yang menjangkiti mereka karena gaya hidup kurang bersih dan tidak memakai alas kaki. Nyatanya, di Kampung Urbinasopen anak-anak memang bermain tanpa menggunakan alas kaki. 

 

“Kaki yang terluka sangat rentan terkena penyakit, apalagi di lingkungan yang tidak higienis, seperti mata ikan itu,” ungkap sang dokter.

 

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya
Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved