Bekerja dengan Kami
EcoStory
Pace Lingkungan: Anak Muda Bisa Membawa Perubahan
28 September 2020 - oleh Lutfy Mairizal Putra
COPY LINK

Kepala Dinas Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup Kota Sorong, Julian Kelly Kambu, (kiri), Manager Dukungan Publik dan Kaum Muda Yayasan EcoNusa Rina Kusuma, Direktur Program Yayasan EcoNusa Muhammad Farid, dan Kepala Pengelolaan Hutan Lindung Ina Roselina Sikirit, dalam acara School of Eco Diplomacy Kelas Dasar di Kota Sorong, Papua Barat (Yayasan EcoNusa/Lutfy Mairizal Putra)

Anak muda memiliki peran penting untuk menjadi pelaku sejarah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Mereka memiliki energi besar untuk menentukan bagaimana kondisi bumi di masa depan. Saat ini, kondisi bumi semakin rusak akibat lingkungan hidup tak menjadi pertimbangan penting dalam rencana pembangunan ekonomi. 

 

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup Kota Sorong, Julian Kelly Kambu, dalam acara pembukaan pelatihan School of Eco Diplomacy (SED) di Kota Sorong, Papua Barat pada Selasa (22/9/2020). Selain Julian, hadir Kepala Pengelolaan Hutan Lindung Ina Roselina Sikirit, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Amos Sumbung, Manajer Dukungan Publik dan Kaum Muda Yayasan EcoNusa Rina Kusuma, dan dipandu Direktur Program Yayasan EcoNusa Muhammad Farid. 

 

“Anak muda harus menjadi pelaku sejarah untuk melestarikan lingkungan. Jika dulu Sukarno meminta dibawakan sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia, kita punya lebih dari itu. Saya percaya anak muda bisa membawa perubahan,” kata Julian yang dikenal dengan sebutan Pace Lingkungan oleh warga Sorong.

 

Menurut Julian, kondisi lingkungan hidup tak bisa dipisahkan dari wacana pembangunan ekonomi. Bila lingkungan hidup rusak, maka rencana pembangunan tak bisa dijalankan dengan baik. Sebaliknya, mengesampingkan lingkungan hidup hanya mendatangkan bencana alam.

 

Baca juga: Kaum Muda Ciptakan Narasi Positif Indonesia Timur

 

Pasalnya, Kota Sorong berada di daerah rawan bencana berupa gempa bumi, banjir bandang, dan tsunami. Pada Juli 2020 misalnya, Kota Sorong dilanda bencana banjir dan tanah longsor hingga memakan lima korban jiwa. Bencana tersebut terjadi karena adanya pertambangan galian C yang beroperasi di Kota Sorong. 

 

“Membangun jembatan itu mudah. Tapi mengubah pola pikir untuk menjaga lingkungan tidak semudah membalik telapak tangan. Hari ini memberikan semangat baru bagi saya bahwa ada harapan baru untuk melihat perubahan melalui anak muda,” kata Julian.

 

Ina Roselina Sikirit mengatakan bahwa anak muda harus membangun kepekaan untuk dapat melihat berbagai sumber daya alam di sekitar. Jika kerusakan terjadi, anak muda dapat berjejaring dan bergerak bersama untuk membuat aksi penyelamatan lingkungan. 

 

“Jangan tanya apa yang bisa negara berikan kepada kita, tapi tanya apa yang bisa kita berikan kepada lingkungan kita. Menjaga lingkungan juga salah satu perbuatan amal,” ucap Ina.

 

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Amos Sumbung, secara virtual menyampaikan suara anak muda diperlukan untuk menyelamatkan lingkungan. Ia mencontohkan di Kota Sorong banyak ijin pertambangan dan perkebunan sawit yang membuat luasan hutan berkurang. Para peserta pelatihan SED Kota Sorong pun diharapkan dapat menjadi aktivis muda lingkungan seperti  yang dilakukan oleh Greta Thunberg asal Swedia, yang konsisten berdemo dan menyuarakan perubahan iklim hingga ke forum-forum internasional. 

 

Baca juga: Kajian Ilmiah Landasan Pembangunan Papua Barat

 

“Anak muda dapat menganalisis dan membuat berbagai pertanyaan. Adakah persoalan lingkungan di sekitar Anda? Apa penyelesaiannya? Apakah ada komunitas atau perseorangan? Jika belum, kalian harus mengambil peran. Menyusun rencana aksi apa yang bisa dilakukan,” ujar Amos.

 

SED Kelas Dasar Sorong diikuti oleh dua puluh anak muda dari Kota Sorong. Kegiatan SED berlangsung selama tiga hari, 22-25 September 2020. Selama pelatihan, peserta berdiskusi dengan para pakar dan tokoh inspiratif muda asal Tanah Papua, kunjungan lapangan ke Bank Sampah Kota Sorong dan Hutan Mangrove Klawalu serta mengasah keterampilan mereka dalam merancang aksi perubahan untuk lingkungan. 

 

“Kami berharap, dari pelatihan ini dapat tumbuh kesadaran diri pada anak muda Kota Sorong terhadap persoalan-persoalan lingkungan di kotanya dan secara bersama-sama melakukan perubahan positif di masa mendatang agar kelak mereka dapat berbangga diri menjadi pelaku sejarah dari perubahan lingkungan di Kota Sorong maupun wilayah lainnya di muka bumi,” ucap Muhammad Farid, Direktur Program Yayasan EcoNusa, menutup sesi pembukaan SED Kota Sorong.

 

 

 

 

Peninjau: V. Arnila Wulandani

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya
Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved