Bekerja dengan Kami
EcoStory
Mereka yang Terpikat Pesona Cenderawasih
08 April 2021 - oleh Lutfy Mairizal Putra
COPY LINK

Cenderawasih kuning-besar bertengger di ranting pohon usai menampilkan keindahan bulunya untuk menarik hati cenderawasih kuning-besar betina (foto: Tim Laman)

Tak ada yang meragukan keindahan serta pesona cenderawasih. Bulunya yang penuh warna, tariannya yang menawan, dan suaranya yang menggelegar di keheningan hutan primer Tanah Papua dan Kepulauan Maluku membuat siapa saja terpukau. Keberadaannya menginspirasi banyak orang. Bahkan banyak pula yang mencari keuntungan darinya.

 

Dari dataran Asia, pesona cenderawasih menyebar hingga ke dataran di Eropa. Penyebaran terjadi sejak kembalinya kapal ekspedisi Ferdinand Magellan pada 1522. Selain membawa cengkih, kru kapal Victoria yang kembali ke Spanyol itu juga membawa kulit cenderawasih kecil atau Lesser bird-of-paradise (Paradisaea minor). Burung itu merupakan hadiah dari penguasa Kesultanan Bacan kepada Magellan dan kemudian dipersembahkan kepada raja Spanyol.

 

Ambil bagian dalam: Dukung Kampanye Defending Paradise untuk Pelestarian Hutan Hujan Tropis Tanah Papua dan Kepulauan Maluku Sebagai Habitat Cenderawasih

 

Burung Tuhan

 

Dalam jurnalnya, Antonio Pigafetta, asisten Magellan mendeskripsikan keindahan cenderawasih sebagai burung dengan ekor sepanjang merpati; semua bulunya, kecuali sayap, berwarna kuning kecoklatan; dan tidak pernah terbang kecuali ada angin berhembus. “Kami diberi tahu bahwa burung-burung itu berasal dari surga duniawi dan disebut Bolon diuta [burung dewata], artinya burung-burung Tuhan.”

 

Penyebutan cenderawasih memiliki banyak varian pada akhir abad 16. Orang Portugis menyebutnya dengan burung matahari atau passaros de sol dan dalam bahasa Latin disebut Avis paradiseus atau burung surga. Karena tak pernah melihat cenderawasih bernyawa, para pedagang Melayu menyebutnya dengan burung mati. 

 

Mitos pun berkembang di masyarakat bahwa cenderawasih tak pernah hinggap di pohon dan terus terbang di antara bumi dan langit hingga mereka mati. Imajinasi tersebut diyakini bahkan hingga ratusan tahun setelahnya. Saat mempublikasikan deskripsi ilmiah cenderawasih kuning-besar (Greater bird-of-paradise) pada 1758, Carolus Linnaeus, bapak taksonomi, mengusulkan penggunaan nama ilmiah burung tersebut dengan Paradisaea apoda, di mana paradisaea berarti surga dan apoda berarti tanpa kaki.

 

Tak banyak orang Eropa kala itu yang cukup beruntung untuk melihat cenderawasih secara langsung di habitat mereka. Di antara sedikit orang itu, Alfred Rusell Wallace punya keberuntungan lebih baik bahkan dengan mengabadikan namanya. 

 

Bersama Ali, pemuda Melayu yang menjadi tangan kanannya, Wallace mengunjungi Pulau Bacan (kini termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara) untuk mengoleksi spesimen pada Oktober 1858. Ali membawakan Wallace beberapa burung “aneh” berwarna hijau di dada dan bulu putih yang memanjang di bahu. Saat pertama kali melihatnya, Wallace merasa mendapat hadiah besar bagi koleksinya.

 

“… saya yakin saya sudah memiliki burung terbaik dan terindah di pulau itu. Saya berniat merahasiakannya tapi saya tak dapat menahan diri untuk memberi tahu Anda, saya mendapatkan burung cenderawasih baru! … Saya menganggapnya sebagai penemuan terbesar yang pernah saya buat ...,“ kata Wallace.

 

Cenderawasih tersebut dikenal dengan nama Bidadari Halmahera atau Standardwing Bird-of-Paradise. Wallace mendaftarkan namanya pada burung itu dengan nama ilmiah Semioptera wallacii

 

Standardwing Bird-of-Paradise (Semioptera wallacii)

 

Selain itu, Wallace juga menemukan cenderawasih lainnya saat ia berada di Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat, pada 1860. Dalam buku The Malay Archipelago, Wallace mengisahkan pertemuannya dengan cenderawasih dan rasa syukurnya karena telah menemukan keindahan cenderawasih lainnya. “Tetapi tidak ada yang melampaui keindahan cenderawasih. Saya adalah satu-satunya orang Inggris yang telah melihat keindahan burung ini di hutan asalnya,” katanya.

 

Cenderawasih telah dijadikan cendera mata. Bahkan bulunya menjadi komoditas tersendiri. Puncaknya terjadi sekitar awal abad ke-20, saat Eropa dan Amerika Serikat keranjingan mode topi dengan bulu berwarna cerah. Buktinya, selama 1905-1920, sekitar 30.000-80.000 cenderawasih dibunuh dan bulunya dijual di pelelangan bulu di London, Paris, Amsterdam. 

 

Dalam perkembangannya, topi bulu cenderawasih mendapat penolakan keras di Belanda. Kampanye perlindungan cenderawasih rupanya menginspirasi Kooders, ilmuwan dan pejabat kehutanan Hindia Belanda, yang tak puas dengan kebijakan lingkungan di Hindia Belanda. Kooders menjadi Ketua Perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda (NIVN) yang didirikan pada 1912. Berkat desakan NIVN, dibentuk cagar alam pertama buatan Belanda seluas 6 hektare di Depok. Kemudian, larangan perburuan cenderawasih dan merpati jambul diterbitkan pada 1922.

 

Menjelajah Tanah Surga

 

Kisah Wallace saat melihat cenderawasih kuning besar rupanya membakar jiwa bertualang Blair Bersaudara, Lawrence dan Lorne Blair. Mereka mengajukan proposal pendokumentasian cenderawasih kepada Ringo Starr, mantan personel The Beatles. Ringo menyetujui ide mereka dengan memberikan biaya perjalanan 2.000 poundsterling dan biaya pascaproduksi. 

 

Blair Bersaudara tiba di Indonesia pada 1972. Mereka menghabiskan waktu 10 tahun untuk mendokumentasikan berbagai hal “ajaib” di Indonesia. Hasil penjelajahan mereka diterbitkan dalam dua media, yaitu serial film Ring of Fire: An Indonesian Odyssey dan buku Ring of fire: Indonesia dalam Lingkaran Api. Film mereka dibeli oleh Public Broadcasting Service (PBS) di Amerika Serikat yang bekerja sama dengan BBC. Kerja keras mereka mendapatkan penghargaan Emmy Award pada 1988. 

 

Sayangnya, tak ada dokumentasi lengkap seluruh keluarga Paradisaeidae yang tersebar di Kepulauan Maluku, Tanah Papua, Papua Nugini, dan Australia. Edwin Scholes, ahli ornitologi Cornell University dan Tim Laman, fotografer dan ahli biologi, terobsesi mengisi kekurangan informasi burung surga yang belum dikenal sains. Pada 2004, keduanya memulai ekspedisi Bird-of-Paradise Project.

 

Edwin dan Tim menghabiskan waktu selama 8 tahun untuk menyelesaikan 18 ekspedisi ke 51 kamp yang berbeda, memanjat ratusan pohon, dan puluhan tirai penghalang untuk mengamati cenderawasih. Mereka menghasilkan 39.000 foto, video, dan rekaman suara 39 spesies keluarga Paradisaeidae. Saat ini terdapat 42 spesies burung surga yang telah teridentifikasi. 

 

Cenderawasih dan habitat mereka tak pernah lepas dari ancaman. Meski pemerintah Indonesia telah menetapkan cenderawasih sebagai satwa dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perburuan masih terjadi meski dalam skala yang berbeda dibanding awal abad 20. Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, Provinsi Papua, Muhlis Natsir, menyatakan bahwa cenderawasih adalah satwa yang paling sering diselundupkan ke Jakarta dan Sumatra. 

 

Ancaman lainnya datang dari alih fungsi lahan hutan primer menjadi perkebunan, pertambangan, atau peruntukan lainnya. Selama 1990 hingga 2019, luasan hutan Tanah Papua berkurang hampir 2 juta hektare dari total 33 juta hektare. Tidak dapat dipungkiri, hutan di Tanah Papua merupakan salah satu hutan yang paling diincar pada saat ini karena kondisi hutan di wilayah Indonesia lain sudah mulai habis.

 

Setiap hektare hutan primer di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku hilang, risiko pemanasan global pun semakin meningkat. Tak hanya bagi Indonesia, namun juga bagi dunia. Bila itu terjadi, bukan hanya keberadaan cenderawasih, keberlangsungan hidup manusia pun akan makin terancam.

 

 

 

 

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya
Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2021. EcoNusa. All rights Reserved