Bekerja dengan Kami
EcoStory
Hutan Perempuan, Pelestarian Ekosistem Bakau oleh Perempuan Enggros (Bagian 2)
30 December 2020 - oleh Anggita Ayu Indari
COPY LINK

Landskap Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua. (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Keunikan tradisi Tonotwiyat pernah mengharumkan nama Kampung Enggros hingga kancah nasional melalui Lomba Desa Nasional pada 2016.

 

“Kita punya hutan perempuan ini unik. Saya juara tiga waktu itu. Waktu lomba desa nasional saya jelaskan hutan perempuan dan bagaimana kami di sini melestarikan hutan bakau dengan kami punya tradisi,” ujar Kepala Kampung Enggros, Orgenes Meraudje, yang ditemui terpisah di Pantai Hachnuk.

 

Para pejabat pemerintahan dan turis-turis juga banyak berdatangan untuk mengunjungi hutan perempuan. Biasanya mereka datang secara rombongan untuk melihat prosesi Tonotwiyat berlangsung. “Di bulan Januari kemarin, ada rombongan kementerian datang dari Jakarta. Di bulan Januari 2021 sudah ada rencana turis luar negeri mau kita ajak ke sini. Biasanya mama yang antar mereka,” kisah Mama Yos dengan mata berbinar-binar penuh kebanggaan.

 

Aturan tak tertulis menjaga hutan perempuan tetap lestari

 

Ada beberapa aturan yang perlu dipatuhi oleh para perempuan yang mencari bahan pangan di hutan perempuan. Sebelum mengunjungi hutan, para perempuan sebaiknya tidak boleh bertengkar atau punya masalah dengan keluarga di rumah. Mereka juga dilarang untuk berbicara kasar atau jorok. Ketika sedang menstruasi mereka tidak boleh ikut berendam di dalam lumpur. 

 

Di samping itu, para perempuan juga terus memegang teguh peraturan yang membawa nafas pelestarian lingkungan. “Di sini kami membawa bekal secukupnya saja. Biasanya hanya air saja. Kalau terlalu banyak nanti kita punya sampah,” tutur Mama Yos. 

 

Untuk menjaga kelestarian hutan perempuan, mereka dilarang untuk memotong sembarang kayu. Jika ingin mengambil kayu bakar, mereka harus memungut ranting yang sudah jatuh. Mama Yos pun menambahkan bahwa masyarakat di sana tidak pernah menargetkan berapa banyak hasil tangkapan yang harus diperoleh. Bagi mereka, berkat sudah diatur oleh Tuhan. Jika banyak mereka bersyukur. Kalaupun tangkapannya sedikitjuga tak menjadi masalah. Oleh sebab itu, mereka tidak boleh membawa ember atau wadah penampung selama mencari tangkapan. Pola pikir ini menjadi cara jitu untuk mempertahankan populasi hasil tangkapan dan menghindari eksploitasi besar-besaran. 

 

Ancaman sampah di Hutan Perempuan

 

Meskipun masyarakat setempat terus berupaya melestarikan hutan perempuan, ancaman masih saja menghantui ekosistem bakau di dalamnya. Masih banyak sampah menyangkut di akar-akar pohon bakau. Beberapa sampah seperti botol plastik terlihat mengambang di air lumpur. Ada pula tas, sepatu hingga kursi yang tersangkut di dahan pohon.

 

Semakin banyak sampah, semakin banyak pula nyamuk yang beterbangan di hutan itu. Tak terhitung berapa kali perahu oleng karena EcoNusa sibuk berkelahi dengan nyamuk-nyamuk yang menggigit kulit. “Sekarang ini banyak sampah. Sampah-sampah ini hanyut dari kota. Dari Hamadi atau Entrop sana. Sampah merusak hutan. Kami jadi susah cari bia. Jadi banyak nyamuk juga di sini, mengganggu kami yang datang,” tutur Mama Yos.

 

Tentu sampah-sampah ini mencemari habitat bia, ikan, udang dan kepiting. Hasil tangkapan bia masih bisa diperoleh. Tetapi banyak sampah di air lumpur mengganggu tangkapan. “Biasanya kami bisa dapat banyak bia, sekarang tertutup sampah. Kalau menyelam kami injak dulu sampah di kaki baru dapat bia,” tuturnya.

 

Ekosistem mangrove di dalam Hutan Perempuan. (Yayasan EcoNusa/Anggita Ayu Indari)

 

Masifnya pembangunan di kawasan Teluk Youtefa membuat pencemaran di kawasan hutan perempuan meningkat. Seiring diresmikannya Jembatan Holtekamp yang menghubungkan Kota Jayapura dengan Skouw, perbatasan Papua Nugini, alih fungsi lahan hutan bakau di kawasan hutan perempuan terus-menerus terjadi. Bahkan, baru-baru ini pembangunan arena dayung untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang membuka kawasan hutan perempuan berdampak pada masyarakat Kampung Enggros.

 

“PON itu mempengaruhi kami warga kampung. Waktu itu sempat ada air bah sampai naik ke kami punya para-para karena tidak ada lagi pohon bakau yang menahannya,” kenangnya.

 

Menurut Mama Yos, jika dibiarkan lama-lama hutan perempuan hanya tinggal sejarah. Masyarakat perlu berjuang bersama untuk menyuarakan kerusakannya. Tradisi Tonotwiyat perlu diteruskan pada generasi selanjutnya agar mereka dapat memahami keadaan hutan bakau secara nyata. Namun nampaknya, tidak banyak anak muda yang tergerak untuk itu.

 

 “Ada anak muda yang ikut mencari bia, tapi tidak banyak. Kebanyakan anak perempuan sekarang maunya yang instan-instan saja. Padahal kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan menjaga hutan ini di masa depan,” ucap Mama Yos.

 

Aksi bersih sampah untuk lestarikan hutan perempuan

 

Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian hutan perempuan menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan. Sebab, selain menjadi sumber penghidupan masyarakat Enggros, ekosistem bakau menjadi tempat hidup berbagai keanekaragaman hayati dan berperan sebagai penahan laju abrasi.

 

Untuk mendukung upaya ini, EcoNusa bersama berbagai komunitas lokal, organisasi mahasiswa dan lembaga pemerintahan menginisiasi kegiatan aksi bersih pantai di pesisir pantai sepanjang hutan perempuan. Lokasinya di sekitar Jalan Hamadi dan Kawasan Pesisir Teluk Youtefa pada 6 Desember 2020 lalu. 

 

Harapannya, kegiatan bersih sampah di pantai-pantai yang dekat dengan hutan perempuan ini dapat turut mengurangi jumlah sampah yang hanyut menuju hutan perempuan. Bersih sampah ini juga diharapkan dapat mengajak masyarakat agar makin sadar akan pentingnya menyelamatkan ekosistem bakau yang ada, terutama hutan perempuan. Bagaimanapun hutan ini erat dengan tradisi turun temurun bagi para perempuan Enggros. 

 

 

 

 

Editor: Leo Wahyudi & V Arnila Wulandani

EcoBlogs Lainnya
Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2021. EcoNusa. All rights Reserved