Bekerja dengan Kami
EcoStory
Eliza, Sang Penjaga Hutan dan Laut di Negeri Haruku
14 November 2020 - oleh Nurdin Tubaka
COPY LINK

Eli, Kepala Kewang Haruku sedang mengamankan telur burung gosong di dalam penangkaran agar kelestarian burung gosong tetap selalu terjaga. (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

Ia berangkat dari oase kecil dan bertransformasi menjadi besar. Ia bak gelombang yang pantang tenggelam. Itulah sepenggal metafora yang pantas disematkan kepada Eliza Marten Kissya, Kepala Kewang Adat Haruku. Usianya sudah menginjak 71 tahun. Namun, semangat serta pengorbanannya masih terus bergelora hingga kini untuk menjaga alam di tanah leluhurnya, Negeri Haruku, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

 

Pria tua yang sering disapa Eli ini memilih untuk mengabdi dan menghabiskan waktu di alam Haruku. Sebab, baginya hutan dan laut menjadi sumber kehidupan yang pantas diselamatkan dari perilaku manusia yang syarat dengan keserakahan dan kejahatan.

 

Bertepatan dengan Peringatan Hari Pahlawan di 2020,  di tepian sungai Negeri Haruku, Eli berkisah kepada tim Ekspedisi Maluku EcoNusa. Sudah 41 tahun dirinya mengabdikan hidup untuk menjaga hutan, laut, dan menjunjung tinggi kearifan lokal. Langkah ini semata-mata untuk menjaga warisan  yang ditinggalkan leluhur sejak ratusan tahun lalu.

 

Sembari duduk di sebuah kursi mini, di atas pasir putih berkilauan, Eli bertutur, sejak kecil ia sudah diajarkan untuk menjaga alamnya. Eli pun tidak lanjut sekolah. Ia berpendapat, tanpa duduk di bangku sekolah rakyat pun setiap orang bisa menjaga alamnya asal memiliki keikhlasan mengabdi. Ketika memulai kiprahnya menjadi penjaga lingkungan di Haruku, dia pun menyadari tugas menjadi penjaga hutan dan laut (Kewang) itu berat. Terlebih kini di usianya yang tak lagi muda. 

 

Di usia senjanya, alih-alih berhenti dan beristirahat, Eliza justru masih terus mengabdi kepada tanah leluhurnya dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga.

 

 

Eliza, Kepala Kewang (kepala penjaga alam di Haruku), kesehariannya menjaga hutan dan laut Haruku. Kiprahnya membawanya meraih Penghargaan Kalpataru tahun 1985. (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis) 

 

“Kewang itu pekerjaan berat. Kerja tanpa pamrih, tidak digaji, namun saya tetap mengabdi untuk alam. Kenapa? Karena, bumi adalah titipan Tuhan untuk anak cucu,” kata penerima Penghargaan Kalpataru tahun 1985 ini.

 

Keberadaan Kewang di Negeri Haruku sudah ada sejak 1600. Jadi, jauh sebelum manusia-manusia modern dan ahli lingkungan hidup bicara soal pembangunan berkelanjutan, konservasi, reboisasi, maupun revitalisasi, Kewang sudah jauh lebih dulu bergerak untuk menjaga laut dan hutan melalui aturan adat, yakni sasi atau larangan.

 

Menurut para tetua di Haruku, sasi diterapkan agar masyarakat tak lagi mengeruk sumber daya alam secara berlebihan. Masyarakat Haruku percaya, menjaga alam sama halnya dengan memakmurkan generasi dan anak cucu di negeri sendiri.

 

Kewang harus berjaga-jaga di hutan. Inilah salah satu bentuk sasi yang dilakukan. Misalnya, jika ada warga yang hendak ke hutan memotong daun rumbia atau sagu untuk kebutuhan atap rumah, maka harus atas seizin Kewang. Hal itu tetap berlaku meskipun pohon yang dipotong adalah hak milik warga tersebut.   

 

Baca juga: Tanam Mangrove dan Transplantasi Terumbu Karang, Dukungan untuk Haruku

 

“Setiap hari Jumat Kewang di Haruku menggelar sidang. Kita bicara banyak hal, termasuk jumlah pelepah sagu yang dipotong harus seizin Kewang. Karena sagu adalah kehormatan lokal kami yang harus dijaga. Jika lalai, generasi mendatang bisa-bisa tidak lagi mengenal sagu,” Eli menyebut.

 

Eli menambahkan, sasi yang paling terkenal di Haruku adalah ikan lumpat. Sasi ini merupakan perpaduan antara sasi laut dan sungai. Jadi, ikan laut dipanggil masuk ke dalam sungai. Sasi ikan lumpat ini pun ada tradisinya sendiri. Sebenarnya bentuk dan makna sasi  banyak dan luas. Mengambil buah-buahan yang masih muda juga disebut sasi

 

“Jadi sebelum kita lahir, kearifan lokal itu sudah ada. Hanya saja, kita kerap salah menerkanya. Sebab itu, mari menjaga dan memanfaatkan alam dengan arif,” ajak Eli.

 

Eli juga menyinggung soal sampah laut. Ia berkata, dalam waktu-waktu tertentu, banyak sampah yang berserakan di laut Haruku yang berasal dari kampung lain. Jika hal itu sudah terjadi, maka semua raja-raja (kepala desa) harus duduk bersama, dan membuat sebuah aturan tentang larangan membuang sampah di laut.

 

 Keindahan landscape Haruku, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

   

Eli memandang misi pelestarian hutan dan laut yang dibawa EcoNusa telah menambah daftar lembaga maupun komunitas yang bergerak melawan kejahatan lingkungan. Prinsip Eli, dengan begitu Kewang Haruku jadi punya teman baru. 

 

Baca juga: Ekspedisi Maluku EcoNusa: Misi Solidaritas untuk Kepulauan Maluku 

 

Selain memberikan dukungan dengan menanam 520 pohon mangrove di pesisir pantai Haruku, bersih-bersih laut, dan menanam karang di perairan sekitar Haruku, tim Ekspedisi Maluku EcoNusa juga memberikan dukungan alat-alat kesehatan untuk pencegahan Covid-19 dan pemeriksaan kesehatan. Dukungan tersebut merupakan wujud solidaritas EcoNusa kepada masyarakat Haruku yang telah sepenuh jiwa menjaga hutan dan lautan. 

 

“Kalau berlayar ke utara memang badai tak diduga, saatnya EcoNusa dan Kewang Haruku angkat suara selamatkan bumi sekarang juga,” Eli berpantun menutup perbincangan dengan tim EcoNusa.

 

Editor: V. Arnila Wulandani & Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya
Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved