Bekerja dengan Kami
EcoStory
Rindu yang Tatinggal di Papua
02 September 2020 - oleh Lutfy Mairizal Putra
COPY LINK

Nowela Elizabeth Auparay menyanyikan lagu Tatinggal di Papua di sebuah studio rekaman di Jakarta (Yayasan EcoNusa/Novie Sartyawan)

Delapan bulan telah berlalu dan Nowela Elizabeth Auparay belum sempat ‘terbang’ ke Papua. Salah satunya karena pandemi COVID-19 yang menyebar sejak Maret di Indonesia. Selain itu, pemenang Indonesia Idol 2014 musim kedelapan itu juga sibuk berkarya di dunia musik, karena industri inilah yang membesarkan namanya.

 

Bersama Tiara Andini, Raisa Andriana, dan Lyodra Ginting, Nowela turut memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan ke-75 RI di Istana Negara dengan menyanyikan lagu Sajojo secara virtual. Tiga bulan sebelumnya, Nowela mengeluarkan lagu tunggal (single) berjudul Tatinggal di Papua, satu pekan sebelum Idul Fitri 1441 Hijriah.

 

“Saya sengaja merilis lagu itu seminggu sebelum Lebaran untuk menyemangati mahasiswa dan orang-orang yang belum bisa pulang ke Papua. Lagu itu mewakili mereka dan saya yang sudah rindu pulang ke Papua. Saya sudah merantau sangat lama di Pulau Jawa. Dan Tatinggal di Papua juga salah satu titik awal saya untuk memperkenalkan Indonesia Timur,” kata Nowela kepada EcoNusa.

 

Lagu Tatinggal di Papua diciptakan oleh Stephen Wally dan telah dinyanyikan oleh berbagai profesi. Pacenogei dan Judika, Brimob Papua, mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri turut menyanyikan lagu tersebut. Dalam unggahan lagu Tatinggal di Papua di saluran YouTube Nowela, warganet berkomentar pilu tentang kerinduan dan cintanya terhadap Tanah Papua.

 

Tatinggal di Papua memiliki arti yang sangat personal bagi Nowela. Setiap Nowela manggung di Papua, Tatinggal di Papua selalu masuk dalam daftar lagu yang dibawakan dari panggung ke panggung. Awal 2020, Nowela memutuskan mengurus izin untuk menjadikan lagu itu sebagai lagu tunggal.

 

Ada rasa haru setiap Nowela menyanyikan Tatinggal di Papua, termasuk dalam proses rekaman. Air matanya jatuh begitu saja tanpa sempat dibendung. “Saya bilang ‘Aduh kayaknya (nadanya) goyang deh. Kita rekaman ulang aja’. Lalu produser saya bilang ‘Enggak usah. Ini yang paling pas untuk menyanyikan lagu ini’. Kalau soal nada bisa kita edit sedikit tapi (soal) rasa gak akan bisa dapet lagi,” ucap Nowela.

 

Rasa cinta Nowela terhadap Papua tumbuh berkat masa kecil yang dia habiskan di tengah keindahan alam Papua. Nowela lahir pada pertengahan Desember 1987 di Wamena, kota kecil di dataran tinggi yang dilingkupi hutan lebat. Alex David Zakaria Auparay, papa Nowela, adalah seorang pendeta yang sering memberikan pelayanan kepada jemaat di pedalaman. Bersama Alex, Nowela kecil sering masuk-keluar hutan dan bersinggungan dengan masyarakat adat.

 

Alam menjadi taman bermain bagi Nowela. Selepas sekolah, bersama teman-temannya Nowela menjelajahi kerimbunan hutan dan jernihnya sungai Wamena. Nowela kecil baru pulang ke rumah menjelang matahari terbenam. Lebih dari itu, Nowela akan menerima hukuman disiplin dari orang tuanya.

 

“Masuk hutan, naik pohon, ambil buah, ke sungai cari ikan. Kalau mau gelap sudah takut. Pulang telat nanti dihukum berdiri sama Papa. Karena memang Papua itu alamnya memanjakan ya. Terutama kalau kita di Wamena daerah pegunungan. Jadi memang mainnya cuma masuk keluar hutan dan ke sungai,” kata Nowela.

 

Nowela mengaku punya pengalaman memalukan saat tengah asyik bermain dengan teman-temannya. Saat itu, Nowela dan teman sebaya nyemplung ke dalam selokan besar di sekitar komplek rumah. Tanpa disangka, saat sibuk mencari ikan di dalam selokan, aksi Nowela terlihat oleh teman orang tuanya.

 

“Teman mama lewat. Dia bilang ‘Kok di sini?’ Sampai di rumah dia lapor sama mama. Itulah di mana saya dihukum sama mama. “Kamu malu-maluin mama. Teman mama lihat kamu lagi di selokan cari ikan’. Tapi jangan samakan dengan selokan di Jakarta, ya. Di sana airnya bersih, jernih, banyak ikan,” ujar Nowela diiringi tawa.

 

Nowela menetap di Wamena hingga kelas 4 Sekolah Dasar. Setelah itu, dia pindah ke Salatiga, tempat Alex melanjutkan kuliahnya di Universitas Kristen Satya Wacana. Saat kelas 3 Sekolah Menengah Pertama, Nowela pindah ke Merauke selama setahun. Kemudian, dia kembali pindah ke Pulau Jawa karena mendapat beasiswa dari Departemen Pendidikan.

 

Sejak SMA hingga kini Nowela berdomisili di Pulau Jawa. Namun, hati Nowela selamanya milik Papua. Dari jarak lebih dari 3.000 kilometer, Nowela tetap memantau perkembangan yang terjadi di Papua.

 

Saat banjir bandang menerjang Sentani pada Maret 2019 lalu, Nowela bersedih. Dia ikut menggalang dana melalui web kitabisa dan berhasil menghimpun dana lebih dari Rp14 juta. Pengumpulan dana untuk membantu Sentani juga dilakukan dengan menggelar konser amal di Jakarta. Hasilnya, terkumpul donasi sebesar Rp42 juta.

 

Selain itu, Nowela juga ikut bergerak meringankan pandemi COVID-19 dengan kembali menggalang dana. Donasi yang terkumpul lebih dari Rp53 juta ditujukan untuk membantu tenaga medis di Papua.

 

“Tahun 2019 ada banyak bencana di Papua. Hal yang membuat hati saya sangat sedih. Saya dan orang Papua yang merantau sedih karena kami gak bisa di sana. Ya, mungkin yang bisa kami lakukan kalau kami di sini dengan mengumpulkan donasi. Saya bersyukur banget orang Papua yang merantau solidaritasnya cukup tinggi,” ucap Nowela.

 

 

 

 

Peninjau: Veronica Arnila Wulandani
Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya
Rumah EcoNusa
Jl. Maluku No.35, RT.6/RW.5, Gondangdia.
Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350
©2020. EcoNusa. All rights Reserved